Thursday, March 30, 2017

Transportasi laut terganggu, Rerata realisasi lifting di bawah target

April 20, 2010 by  
Filed under BBM, Featured

Rata-rata realisasi lifting hingga April 2010 baru mencapai 922.483 barel per hari (bph) atau 42.517 bph di bawah target, terutama disebabkan rendahnya realisasi lifting di awal tahun akibat gangguan transportasi laut.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi R. Priyono mengatakan realisasi lifting yang masih berada di bawah target tersebut lebih banyak disebabkan oleh gangguan transportasi laut. Pada Januari, katanya, level lifting hanya mencapai 782.430 bph.

“Tetapi pada Februari angka konsolidasi lifting mencapai 954.750 bph dan naik lagi pada Maret sebanyak 1,01 juta bph. Adapun realisasi lifting pada April hingga laporan ini dibuat mencapai 951.430 bph, sehingga rata-ratanya menjadi 922.483 bph. Untuk realisasi Maret dan April merupakan angka operasional,” katanya hari ini.

Adapun, rata-rata produksi minyak hingga April 2010 mencapai 955.980 bph atau 99,18% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2010. Realisasi produksi tersebut, tuturnya, menyerupai tingkat produksi yang dicapai pada periode yang sama 2009 yang mencapai 955.759 bph.

Hanya saja, katanya, terdapat tren positif tingkat produksi yang terjadi dalam empat bulan pertama 2010. Realisasi produksi pada Januari mencapai 944.013 bph, lalu naik menjadi 957.145 bph pada Februari, 962.446 bph pada Maret dan hingga pekan kedua April rata-ratanya mencapai 973.218 bph.

Untuk mencapai tingkat produksi 2010, tutur Priyono, BP Migas setidaknya akan melakukan empat langkah, yaitu mempercepat realisasi produksi lapangan baru di Blok Cepu dan Merangin II, menurunkan tingkat penghentian operasi fasilitas produksi secara tidak terencana (unplanned shutdown), optimalisasi jadwal pekerjaan untuk planned shutdown untuk meningkatkan hari operasional, dan memfasilitasi pembebasan lahan untuk Chevron Pacific Indonesia dan Mobil Cepu.

“Dari Blok Cepu, karena tingkat serapan kilang Tri Wahana Universal yang tidak stabil, kami tingkatkan kapasitas serapan Pertamina dari 13.800 bph menjadi 18.900 bph. Sele Raya di Merangin II kami dorong untuk produksi 600 bph pada Mei dan naik menjadi 2.000 bph di akhir tahun. Kehilangan produksi karena unplanned shutdown turun dari 4.600 bph pada Januari menjadi 1.500 bph pada Maret,” ungkapnya.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.