Monday, March 27, 2017

Tokoh Sumut tolak Jepang di Inalum

May 16, 2010 by  
Filed under Alternatif

Sejumlah tokoh masyarakat Sumut mendesak pemerintah pusat agar tidak memperpanjang kontrak operasional PT Indonesia Asahan Aluminium (PT Inalum) karena Indonesia sudah mampu mengoperaiskan pabrik aluminium tersebut.

Jenderal Purn TNI Luhut Panjaitan, selaku putra Sumut, menegaskan pemerintah tidak perlu memperpanjang kontrak operasional Inalum dengan investor Jepang. Karena dalam master agereemant sudah jelas bentuk kerja sama antara Indonesia dan investor Jepang yaitu built, operate, transfer (BOT) sampai 2013.

“Dalam master agreement itu sudah jelas bentuk kerja samanya yaitu BOT sampai 2013. Kalau ada lagi niat pemerintah untuk memperpanjang kontrak, sudah tidak tepat karena pabrik tersebut sudah dapat dioerasikan putra Indonesia,” ujarnya di Medan akhir pekan lalu.

Sebelumnya, Jepang sudah mengajukan proposal perpanjangan kontrak pengelolaan Inalum kepada Pemerintah Indonesia . (Bisnis, Jumat 14/5)

Menurut Luhut, yang juga mantan Menteri Perindustrian dan Pedagangan itu, tidak ada alasan Indonesia untuk memperpanjang kontrak tersebut. “Inalum harus dikelola Indonesia karena selama ini manfaatnya kurang dirasakan karena selalu merugi,” tuturnya.

Dia menegaskan tidak ada  alasan bagi Jepang memperpanjang  master agreement PT Inalum.  Sebab, dalam master agreement itu  sudah jelas bentuk kerja sama kepemilikan,  yakni built, operate,  transfer (BOT) dan berakhir 2013.

”Dalam master agreement itu  kan sudah jelas,sifatnya BOT.Ya! Harus  diakhiri pada 2013.”   Luhut menegaskan tidak ada alasan master agreement  diperpanjang karena tidak memberi  keuntungan kepada daerah.

“Saya kira pemerintah pusat arif.  Bagi saya, yang paling penting pemerintah  daerah di Sumut kebagian  hasil,” papar mantan Menteri  Perindustrian dan Perdagangan di  era pemerintahan reformasi ini.

Master agreement tertanggal 7  Juli 1975 antara Pemerintah Indonesia  dan Konsorsium Jepang yang  terdiri atas Sumitomoto Chemical  Company, Limioted, Sumitomo  Shoji Kaisha Ltd, Nippon Light Metal  Company Ltd,C Itochu dan Co Ltd,  Nissho-lwai O Ltd, dan lainnya telah  menyepakati pelaksanaan pembangunan  dan aluminum project.

Kepada pihak konsorsium diberikan  hak pengelolaan selama 30  tahun. Sejak Inalum beroperasi  1983, Indonesia sebagai salah  satu pemilik tidak pernah mendapatkan  revenue maupun dividen.

Sementara itu, Mantan Direktur Bisnis PT Inalum Hasrul Hasan menegaskan kebutuhan aluminium Indonesia  per tahun mencapai 230.000 ton bisa  dipenuhi Inalum yang mampu memproduksi  255.000 ton per.

Mantan Direktur Bisnis PT Inalum  yang kini menjadi staf ahli Pemerintah  Kabupaten (Pemkab)  Batubara itu menegaskan selama ini Indonesia harus  mengimpor aluminium dari Australia  sebanyak 150.000 ton per tahun.  Hal itu dilakukan, paparnya, karena sebagian  besar aluminium yang diproduksi  PT Inalum dibawa ke Jepang.

”Jika pengelolaan PT Inalum  diambil alih Indonesia, maka Indonesia tidak  lagi harus impor, karena kebutuhan  aluminium 230.000 ton per tahun dapat dipasok PT Inalum. Jadi Indonesia tidak perlu ragu untuk mengambilalih Inalum dari Jepang,” tuturnya.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.