Satu Lagi Gelar Untuk Bapak Iptek Indonesia,”Habibie”
Sang jenius Habibie mengoleksi satu gelar lagi. Ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dari Universitas Indonesia dalam bidang filsafat teknologi. Penganugerahan gelar doktor kepada Habibie ini langsung disampaikan oleh Rektor UI Prof Dr der Soz Gumilar Rusliwa Somantri di Balairung, Kampus UI, Depok, Sabtu 30 Januari kemarin yang bersamaan dengan upacara wisuda program profesi, spesialis, magister, dan doktor UI 2010.
Dalam pengukuhan yang dilakukan di Kampus UI, Depok, Sabtu (30/1), Habibie menyampaikan pidato berjudul Filsafat dan Teknologi. Habibie mengutarakan keinginannya agar industrialisasi melalui alih ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dilepaskan dari prinsip filosofis pragmatis. “IPTEK menyembunyikan kepentingan yaitu kontrol dan prediksi. IPTEK adalah manifestasi kehendak berkuasa manusia atau alam,” ujarnya.
Sebagai sosok birokrat dan ilmuan yang memperkenalkan teknologi di Indonesia, Habibie memang sangat pantas menerima gelar doktor kehormatan, karena ia selalu menerapkan dasar etika dan budaya dalam pengembangan teknologi. Sebagai seorang filsuf teknologi Indonesia, Habibie selalu menekankan betapa pentingnya riset dan teknologi dalam pembangunan untuk mencapai kemakmura sebuah Negara di zaman modern ini.
Habibie memang patut dikagumi. Perjuangannya dalam mencapai impiannya agar bangsa Indonesia tidak ketinggalan dengan luar negeri dalam bidang IPTEK tak pernah pudar. Indonesia sepertinya masih dijajah secara teknologi, ketergantungan teknologi luar negri dalam banyak bidang-bidang yang strategis sangat terasa. Bisa kita bayangkan betapa makmurnya Indonesia andaikan saja teknologi kita mampu mengolah atau memproduksi seluruh kekayaan alam bangsa.
Bisa kita bandingkan Indonesia dengan Negara seperti Perancis yang sama sekali tak memiliki minyak bumi, akan tetapi mempunyai pendidikan , research dan teknologi perminyakan yang sangat baik, sehingga kini negri itu mempunyai perusahaan minyak no. 4 terbesar di dunia yang beroprasi di banyak Negara. keberhasilan ini tentunya karna mereka menyadari akan pentingnya IPTEK dalam penguasaan energi di atas bumi ini. Dan tentunya hal ini tak akan mungkin bisa terjadi tanpa keinginan usaha dari pemerintah Perancis yang secara cerdas menerapkan strategi ” menguasai tanpa memiliki”.
Dalam hal Migas Indonesia, sebaiknya dapat diusahakan untuk mengalih teknologikan semua pengetahuan dan keterampilan di bidang perminyakan dari tenaga asing yang saat ini masih bekerja di dunia perminyakan. Hal ini memang sudah diupayakan, tapi harus terus dimaksimalkan. Diperlukan usaha yang serius dari Pemerintah untuk mencapai hal ini dan mensupport Pendidikan Tinggi di Indonesia sehingga jumlah tenaga handal yang dihasilkan semakin banyak. Untuk inilah dibutuhkan generasi-generasi muda “techno-economics” ala Habibie dalam bidang energi dalam pemerintahan Indonesia.
