Thursday, March 30, 2017

Sandiaga Uno Dan Kegagalan Saratoga mengakuisisi saham Elnusa

March 22, 2010 by  
Filed under BBM

Gagalnya debut Saratoga bersama konsorsium Northstar Pacific dalam upaya mengakuisi 37,15%  saham PT Elnusa menjadi pukulan telak bagi Sandiaga S. Uno selaku salah satu pemilik Saratoga Investama Sedaya (SIS)

Saratoga sebelumnya mengalahkan konsorsium Ciptadana Capital dan Pertamina dalam rangka akuisisi Elnusa dan menjadi preffered bidder. Namun disaat detik-detik terakhir, akhirnya Elnusa lepas dari genggaman karena lebih dahulu dilepas oleh  PT Tri Daya Esta selaku pemilik saham 37,15% kepada Benakat Petroleum Energy.

Sandiaga berharap debutnya dalam rangka mengakusisi (79,26%) saham Bank Eksekutif melalui bendera Racapital Advisor yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi tak terulang dalam kasus Elnusa. Ia optimistis Bank Eksekutif bisa berhasil dicaplok dan akan menyulapnya dari bank korporasi menjadi bank yang berbasis pada usaha kecil dan menengah (UKM).

Pria yang biasa disapa Sandi ini juga mengungkapkan optimisme bisnisnya diberbagai sektor pada tahun 2010 dan rencana-rencana bisnisnya beberapa tahun kedepan. Beberapa sektor seperti infrastruktur yang akan digarapun bakal mencuat di tahun ini.

Apa saja rencana pria muda yang beberapa waktu lalu masuk dalam jajaran 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes? Berikut wawancara khusus detikFinance dengan Sandiaga Uno awal pekan ini:

Tahun ini apa pandangan anda selaku pelaku usaha dari Racapital maupun Saratoga?

Tahun ini pandangan kita tahun yang berdinamika untuk investasi. Dengan adanya kenaikan minyak dunia akan ada sedikit kendala dari sisi makro di Indonesia. Untuk perusahaan-perusahaan yang berbasis komoditas seperti sawit, batubara justru akan bagus, yang mengikuti kenaikan harga minyak.

Apa potensi peluang yang bisa diambil dari pasca krisis lalu, dari sisi bisnis anda?

Kita melihat banyak sekali potensi dan peluang pasca krisis tahun 2008 lalu, perusahaan-perusahaan yang perlu meningkatkan ekuitasnya untuk berekspansi dalam rangka menangkap peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Mengenai rencana akuisisi Recapital terhadap Bank Eksekutif, apa progresnya?

Saya sangat mendukung terkait bank eksekutif walaupun tidak terlalu terlibat, tapi modelnya akan sama dengan waktu kita  investasi di BPPN. Dimana bank ini akan kita ubah dari bank korporasi menjadi bank ritel dan khusus pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Ya hampir sama dengan BRI lah, karena kekuatan
ekonomi Indonesia ada di UMKM, selama ini mereka tidak tersentuh produk-produk perbankan yang mumpuni.

Bukankah dengan mengubah platform dari korporasi ke bank yang berbasis UMKM, membutuhkan energi dan pemodalan yang besar?

Ya betul, akan sangat besar, tapi dengan kekuatan sekarang, kita yakin turut memberikan support, secara pendanaan yang diperlukan agar bank ini bisa tumbuh dan berkembang paling tidak menjadi bank yang berada di papan menengah lah.

Berapa sih yang disiapkan Recapital?

Jumlahnya kan masih kita verifikasi, tapi kan 30% NPL-nya  ini data yang kita dapatkan masih harus diverifikasi. Tapi kalau 30% NPL-nya dari Rp 1 triliun bagi kebutuhan modalnya sudah bisa terbaca minimum sebesar itu. Ini masih proses verifikasi nanti akhir Maret baru bisa. Kami sudah positif, kita juga sudah
didukung oleh Bank Indonesia agar bisa diselamatkan.

Kok lambat, apakah tidak takut diserobot oleh pihak lain seperti kasus Elnusa?

Mudah-mudahan jangan sampai terjadi (tertawa), karena kita juga banyak transaksi lainnya. Memang dalam kasus Elnusa, kita terkendala dimana si penjual masih melakukan restrukturisasi kewajiban-kewajibannya. Kita waktu itu memberikan kesempatan pada mereka, tapi pada waktu itu mereka mendapatkan tawaran lebih
menarik dari pembeli baru. Ya dalam dagang kan prinsipnya harus take and give.

Jadi kasus Elnusa benar-benar kegagalan Recapital 2010 ini yah?

Ya, ini kegagalan kita di awal tahun 2010, padahal sudah dipelototi 6 bulan loh. Kita sebenarnya sudah siapkan US$ 150 juta.  Kita masih tertarik dengan sektor tersebut. Jasa migas itu, karena Indonesia mempunyai historis menjadi negara dengan cadangan migas terbesar di Asia Tenggara, tapi kita tidak punya
perusahaan kelas dunia dibidang jasa migas.

Istilahnya tukang ledengnya nggak ada, seperti PGN hanya sebagai penyedia infrastruktur, seharusnya kita punya perusahaan jasa migas yang kuat, Elnusa punya peluang itu, dengan adanya sumber dana yang kuat, visi misi dan dukungan manajemen.

Tapi ya sudah lah sudah lewat dan kita pasrah, mudah-mudahan pembeli baru bisa mewujudkan Elnusa menjadi perusahaan kelas dunia.

Kembali lagi ke Bank Eksekutif, dari mana sumber pendanaannya?

Kita siapkan dari dana internal, sudah kita siapkan jauh-jauh hari. Kita incar sudah lama, sejak  Bank Kesejahteraan Ekonomi yang belum juga kita meningkatkan kepemilikan kita, semenjak itu kita mencari bank-bank papan tengah yang bisa diakuisi.

Sekarang soal Saratoga, katanya sudah banyak sektor-sektor yang akan dimasuki di tahun ini seperti pelabuhan?

Ya pelabuhan, intinya infrastruktur, kita ingin sekali tapi belum dapat titik terang. Targetnya sih tahun ini, sebenarnya sejak tahun 2007 sudah kita siapkan. Dananya itu untuk infrastruktur sebesar 30% dari dana investasi yang kita kelola, seperti tol, menara bersama. Kalau yang dikelola US$ 1,5 miliar maka dana untuk proyek-proyek infrastruktur US$ 300-400 juta.

Katanya juga mau membeli PT Courts Indonesia perusahaan berbasis consumer goods?

Untuk yang Courts tidak berlanjut, baru mau tanda tangan perjanjian kerahasiaan. Tapi kita masih cari target-target lainnya. Untuk consumer goods kita arahnya pada kebutuhan sehari-hari seperti perusahaan farmasi. Kalau ritel, kita juga tertarik sekali karena prospeknya sangat bagus sejalan membaiknya ekonomi dan menguatnya daya beli. Kita terbuka saja untuk investasi di ritel.

Soal rencana perusahaan lainnya?

Yang menara akan kita IPO kan tahun ini, tapi belum dipastikan. Diharapkan dengan kebutuhan dana yang besar, bisa menggalang dana, kita lihat bisa mencapai 20-30%. Target dana dari bagian dana infrastruktur yang sudah kita alokasikan, jumlahnya mencapai US$ 50-75 juta. Menara dalam satu dua bulan kedepan bisa
direalisasikan.

Berapa total investasi yang siapkan tahun 2010?

Investasi yang sudah berjalan sampai saat ini sudah mencapai Rp 25 triliun, kalau investasi baru (2010) mungkin  Rp 3-5 Triliun.

Untuk pendapatan bagaimana?

Kita kan sistemnya tidak konglomerasi, j70% pendapatan dari Saratoga masih terkait Adaro.

Target  jangka menengah atau beberapa tahun kedepan?

Akhir tahun ini kita akan menggalang dana untuk fund kita yang ketiga, diharapkan akhir tahun. Hal ini karena akhir tahun ini sesuai rencana kita selesaikan investasi Saratoga jilid kedua. Jilid ketiga ini kita targetkan menggalang dana sekitar Rp 5 triliun.

Dananya dari mana saja?

Kita berharap dari investor yang sama, sebagian dari luar negeri dan sebagian dalam negeri, sekarang ini porsisnya 50%:50%. Dana kelolaan  kita pasti naik, jika dihitung dengan total Recapital mencapai Rp 15 triliun.

Sebenarnya yang membedakan platform Saratoga dan Recapital dari sisi jangka waktu investasi bagaimana?

Kalau Saratoga itu horizonnya lebih panjang, kalau Recapital itu horizonnya lebih jangka menengah. Kalau Saratoga melihatnya investasi panen selama 5-10 tahun, kalau Recapital itu 3-5 tahun.

Margin yang bisa diberikan berapa sih sebagai perusahaan equity fund?

Kalau IRR yang dikendaki investor asing semua rata-rata bisa menghasilan  18% secara konsisten. Kalau di luar negeri belum bisa memberikan secara historis tingkat return secara konsisten seperti di Indonesia.

Sebenarnya portofolio bisnisnya bagaimana? mengingat Saratoga juga menggarap bisnis media dan yang kecil-kecil?

Kita itu alokasinya itu setengahnya (50%) pada bisnis sumber daya alam, 30% pada infrastruktur dan 20% lebih pada bisnis yang melihat pada situasi market, yang menarik untuk investasi. Misalnya  rumah123, fenomena agen real estate ini sulit tergantikan seperti di Australia maupun AS, kita juga ada mobil123. Juga ada investasi kita dibudidaya mutiara, ini memang benar-benar diluar dari biasanya tapi karena memang menjanjikan value added-nya besar, bisnis jewelery meningkat, kita masuk sejak 2006 dibawah perusahaan Blue Ocean.

Kalau begitu anak usahanya jumlahnya sangat banyak dong?

Ya ini lah, kita tidak pernah mengkonglomerasi. Perusahaan itu akan solid tumbuh jika dibiarkan bersaing  dengan sehat,  tidak membawa Saratoga. Soal banyaknya nggak juga, karena sudah banyak yang di cover oleh media, sudah diberi tahu, kita juga kan mengupdate ke investor kita.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.