Thursday, July 27, 2017

Salah Urus Gas Domestik

February 6, 2010 by  
Filed under BBG, Featured

KEPUTUSAN yang ditunggu-tunggu publik itu akhirnya datang juga. Melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 3 Tahun 2010, pemerintah mengeluarkan aturan mengenai alokasi dan pemanfaatan gas bagi kebutuhan di dalam negeri.

Namun, sayang seribu kali sayang, alokasi gas dalam negeri itu diprioritaskan untuk memacu produksi minyak dan gas bumi nasional. Padahal, kebutuhan mendesak akan pasokan gas di dalam negeri bukan di industri migas, melainkan ada pada industri pupuk, listrik, keramik, dan sejumlah industri yang erat kaitannya dengan kebutuhan publik.Industri-industri itulah yang selama ini nyaris sekarat karena kekurangan gas. Pabrik pupuk, misalnya, hampir tiap tahun didera keluhan klasik minimnya pasokan gas karena produksi gas domestik sebagian besar diekspor.

Akibatnya pun juga klasik, yaitu pupuk langka dan harganya terus melonjak. Korbannya siapa lagi kalau bukan petani yang sudah terengah-engah oleh mahalnya ongkos produksi pertanian.Setali tiga uang dengan pabrik pupuk, krisis energi yang berbuntut pada pemadaman listrik antara lain merupakan akibat langsung dari mengalirnya produk gas ke luar negeri. Listrik biarpet yang terjadi tiap tahun, menimbulkan kerugian hingga triliunan rupiah bagi industri.

Sebaliknya industri migas selama ini belum pada tahap mendesak untuk dipasok gas. Para ahli energi menyebut industri migas kita masih bisa menggunakan gas CO2 sebagai bahan bakar untuk berproduksi.Padahal, negeri ini memiliki cadangan gas yang masih terbilang melimpah. Total cadangan gas bumi kita masih lebih dari 180 triliun kaki kubik (tcf), jauh di atas kebutuhan gas domestik dan ekspor yang mencapai sekitar 3 triliun kaki kubik per tahun. Cadangan gas kita dapat diproduksi dalam jangka waktu 64 tahun.

Namun, lebih dari 60% produksi gas kita diekspor dengan perjanjian jangka panjang. Akibatnya, kita kini kelimpungan kekurangan gas di lumbung energi.Di tengah kekurangan itu, harapan sempat terpancar ketika pemerintah menyetop ekspor gas yang sudah jatuh tempo. Tapi, publik kembali masygul karena alokasi domestik itu disalurkan ke keran yang salah.

Dengan memprioritaskan gas domestik untuk industri migas, sama artinya dengan mengisi kantong baju untuk kekosongan di kantong celana.Kebijakan itu sekaligus juga menunjukkan masih kentalnya ego sektoral. Ada semacam pembenaran bahwa pemerintah boleh menggunakan gas hanya untuk kepentingan di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Berkali-kali melalui forum ini kita mengingatkan agar pemangku kebijakan tepat dalam mendiagnosis persoalan. Jangan sampai orang sakit flu diberi obat mata. Akibatnya, demam tidak sembuh, tubuh keracunan.Pemerintah rupanya tidak juga sadar bahwa daya kompetisi industri Indonesia dalam pertarungan pasar global sangat ditentukan oleh ketangguhan industri di dalam negeri.

Sumber : mediaindonesia.com

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.