Monday, January 23, 2017

Produksi Minyak Kritis

February 25, 2010 by  
Filed under BBM, Featured

Realisasi produksi minyak nasional tahun 2010 dikhawatirkan turun 40 persen dari target produksi. Ini sebagai dampak perubahan aturan baku mutu lingkungan dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

”Hal ini harus betul-betul diselesaikan bersama,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita H Legowo. Hal itu disampaikan Evita seusai menghadiri acara bedah buku Keselamatan Instalasi Migas, Rabu (24/2/2010) di Jakarta.

Untuk itu, pihaknya sudah melapor ke Kementerian Lingkungan Hidup mengenai apa saja aturan yang bisa memengaruhi investasi migas. Semua pihak terkait sedang mengidentifikasi dan menginventarisasi masalah berkaitan dengan aturan baru itu.

Namun, pengamat perminyakan Kurtubi menilai, anjloknya produksi minyak mentah dan tidak tercapainya target produksi dalam APBN setiap tahun dalam 10 tahun terakhir ini bukan karena UU Lingkungan Hidup, melainkan karena Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001.

”UU Migas menyebabkan investasi pencarian cadangan baru anjlok sejak tahun 1999. Produksi hanya mengandalkan lapangan tua yang secara alamiah pasti menurun,” kata dia. Dengan UU Migas, proses investasi migas jadi berbelit karena diurus banyak instansi. Investor juga harus membayar pajak meski belum berproduksi.

Sulit tercapai

Evita menjelaskan, target produksi minyak nasional 965.000 barrel per hari akan sulit tercapai jika Peraturan Pemerintah tentang Baku Mutu Lingkungan diterapkan pada 1 April 2010.

Banyak perusahaan minyak dan gas bumi (migas) yang tidak sanggup memenuhi aturan itu. Akibatnya, sekitar 40 persen atau lebih dari target produksi migas tidak bisa tercapai. ”Ini harus diselesaikan bersama,” kata dia.

Dalam UU Lingkungan Hidup disebutkan mengenai analisis risiko lingkungan hidup termasuk ketentuan pidana bagi yang melanggar. ”Ketentuan pidana akan memengaruhi investasi. Padahal, UU ini gampang sekali menciptakan pidana kalau aturan mengenai baku mutu diterapkan apa adanya,” ujarnya.

Salah satu hal yang paling sulit diterapkan oleh kontraktor kontrak kerja sama adalah kewajiban menurunkan temperatur air buangan dari 45 derajat ke 40 derajat celsius melalui pendinginan. ”Mereka belum menghitung biaya investasi untuk mengubahnya, diperkirakan cukup besar. Itu baru dari sisi air, banyak lagi limbah seperti itu,” kata Evita.

Jika aturan itu diberlakukan pada 1 April, kontraktor yang paling terkena dampaknya adalah Chevron dan PT Pertamina. ”Chevron yang paling terganggu produksinya. Pertamina juga berat, hampir di semua lapangan,” ujarnya menegaskan.

Sementara itu, Vice President Komunikasi PT Pertamina Basuki Trikora menyatakan, Pertamina akan melakukan konsolidasi dengan anak-anak perusahaannya untuk kesiapannya dengan diberlakukannya UU Lingkungan Hidup. ”Kami akan mengkaji risiko yang akan timbul,” kata dia menambahkan.

Kompas.Com
Evy

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.