Friday, September 22, 2017

PRI AGUNG RAHMANTO, Pengamat Perminyakan Reformainer Institute

March 4, 2010 by  
Filed under BBM

Cadangan Risiko Fiskal Tergantung Capaian Asumsi Lifting Minyak.

Cadangan resiko fiskal yang dialokasikan pemerintah sebesar Rp.8,6 triliun masih mampu dalam menopang harga minyak jika naik menjadi US$85 per barel. Namun hal tersebut bisa terlaksana dengan catatan asumsi, lifting sebesar 965 ribu dapat tercapai tidak seperti tahun lalu.

Oleh karena itu berkaca dari tahun lalu maka pemerintah diharapkan bisa membuat target lufting yang lebih realistis dan optimis dapat dicapai. Sebelumnya realisasi lifting hanya mencapai 955.000 barel per hari (bph) dari target 960 bph. “Lifting yang realistis hariya di 945-950 ribu bph saja. Kalau ini dicapai maka cadangan risiko fiskal itu cukup,”
urai Pri Agung Rahmanto, Pengamat Perminyakan Reformainer Institute.

Namun, terkait dengan adanya perubahan asumsi harga minyak dalam APBNP 2010 yang naik hingga US$77 per barel, ia menilai kenaikan tersebut terlalu tinggi. Pasalnya proyeksi yang ideal bagi kenaikan harga minyak hanya sampai US$75 per barel dimana level tersebut sudah memperhitungkan dan menyesuaikan harga minyak yang saat ini mulai merangkak naik hingga US$80 per barel.

Lebih lanjut Pri Agung mengatakan pada tahun ini harga minyak dunia memang akan mulai naik dan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, namun hal tersebut bukan berarti menjadi alasan bagi pemerintah untuk menaikan asumsi harga minyak dalam APBNP jauh lebih tinggi. Pasalnya jika dilihat secara fundamental pasokan minyak tidak akan ada.kekurangan dan akan mencukupi.

“Jika pemerintah tidak ingin harga BBM naik tidak harus dengan pasang asumsi ICP (Indonesia Crude Oil Price) tinggi tapi lebih baik alokasikan dengan cadangan risiko fiskal saja, katakanlah Rp. 6-8 triliun. Ini supaya APBN bisa tahan sampai harga minyak US$85 per barefpungkasnya.

Untuk diketahui, harga minyak terjungkir dari sebelumnya naik di perdagangan Asia, Kamis, setelah berjuang untuk memperoleh dukungan di atas US$80 per barel, dengan pasokan minyak mentah dunia masih melebihi permintaan. Kontrak utama berjangka minyak jenis “light sweet crude” di New York untuk pengiriman April turun 32 sen menjadi US$79,68 per bare. Sementara di London, harga minyak Laut Utara Brent untuk pengiriman April turun 29 sen menjadi US$77,809 per barel.

“Bukan kejutan jika minyak terdesak kembali di bawah US$80. Beberapa resiko penurunan minyak masih tetap ada, seperti masalah utang di Eropa,” kata Victor Shum dari konsultan energi Purvin and Gertz di Singapura. “Sejak tahun lalu, minyak diperdagangkan terutama antara US$70-80 per barel. Sangat sulit untuk mendongkrak ke atas dan bertahan di atas US$80 karena resiko penurunan dan berlanjutnya pelemahan permintaan dan tingginya cadangan,”

Di New York, minyak mentah naik US$1,14 di perdagangan, Rabu, setelah komentar pimpinan bank sentral AS, Federal Reserve, Ben Bernanke, membuat, dolar melemah, mendorong permintaan dari pembeli yang memegang mata uang kuat. Bernanke, Rabu, mengatakan bank sentral AS akan mempertahankan tingkat suku bunga rendah untuk rentang waktu yang panjang karena pemulihan ekonomi yang berjalan lamban.

Harian Ekonomi Neraca

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.