Friday, July 28, 2017

PLTA Asahan III Kalau Milik Swasta, Kapan pun Bisa Dijual

May 15, 2010 by  
Filed under Hydro Power

MEDAN-Rombongan Direksi PLN akan bertemu dan berdoa bersama masyarakat di lokasi rencana lahan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan III, hari ini Jumat (14/5). PLN segera memulai pembangunan PLTA berkapasitas 2 x 87 Mega Watt (MW) itun
agar Sumut terbebas dari krisis listrik pada 2013.

Walau hanya mengurus izin lokasi dari Gubsu harus berliku, menghabiskan waktu, PLN akan jalan terus. Beberapa kali pertemuan direksi PLN dengan Gubsu dan jajarannya di Pemprovsu, juga tak menemukan solusi. Karena izin lokasi bagi PLN tidak kunjung keluar, manajemen PLN ingin langsung mendengar pendapat warga di sekitar proyek.

“PLN bersama warga di sana (Asahan III) ingin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan kita semua,” kata Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan, saat konferensi pers di VIP Room Bandara Polonia Medan, Kamis (13/5).

Mengenai izin lokasi Asahan III, Dahlan Iskan sudah bertemu dengan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin sebanyak lima kali selama lima bulan terakhir. Itu belum termasuk perbicaraan dan lobi-lobi lewat telepon. Dirut PLN pada Februari 2010 lalu bertemu dengan Gubsu ketika retreat di Istana Cipanas. Di sana, ada pertemuan Presiden RI, para menteri, gubernur se-Indonesia dan pimpinan BUMN untuk membahas rencana pembangunan. “Bahkan waktu itu beliau nyanyi dangdut dan saya kagum,” kata Dahlan.

Tetapi, ketika Dahlan bertanya soal izin lokasi Asahan III, jawaban Gubsu belum ada yang pasti. Termasuk keinginan Pemprovsu soal andil di proyek Asahan III. Pertemuan terakhir antara Dirut PLN dengan Gubsu di Istana Tampak Siring, Bali pada April lalu. Ketika itu ada pertemuan besar soal perencanaan pembangunan, target kerja lima tahun ke depan dan program perekonomian yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di sela-sela pertemuan itu, Dahlan Iskan menulis memo dan menyerahkan langsung kepada Gubsu Syamsul Arifin. “Isinya kurang lebih begini: ’Pak Gubsu, PLN sudah siap dengan skema mengikutsertakan Pemerintah Daerah Sumatera Utara untuk ikut bersama-sama menangani Asahan III. Apakah ini yang bapak maksud?’” kata Dahlan.

Setelah Gubsu membaca isi memo itu, Dahlan kembali menemuinya di Tampak Siring. Dan bertanya kepada Gubsu tentang jawaban atas memo itu. “Kata beliau begini: ’Gampanglah… gampang Abangda. Nanti kita bicarakan. Bereslah itu semua….’ Kata-kata seperti ini sudah sering diucapkan di lain waktu,” urai Dahlan.

Masih di Istana Tampak Siring, Dahlan kembali menemui Gubsu ketika antre menuju toilet. Saat itu, jarak dari ruang pertemuan ke toilet agak jauh. Karena antre, Dahlan yang punya pengalaman malang melintang sebagai wartawan itu, menyempatkan diri berbicara lagi dengan Gubsu Syamsul soal Asahan III. Jawaban serupa disampaikan Gubsu, yakni ’segera dibereskan’ sebagaimana disampaikan sebelumnya saat pertemuan di Kantor Gubsu bersama Komisi VII DPR RI maupun ketika di Kantor PLN Pusat. “Kami sudah sangat berusaha membuka komunikasi,” katanya.

Saat konferensi pers kemarin, Dahlan didampingi enam direktur. Antara lain, Direktur Pembangkitan Indonesia Barat, Harry Jaya Pahlawan, Direktur Pembangkitan Indonesia Timur Vikner Sinaga, Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko Murtaki Syamsudin, Direktur Perencanaan Nasry Sebayang, GM PLN Wilayah Sumut Denni Pranoto, GM PLN Pikitring (SUAR) Bintatar Hutabarat, GM PLN Pembangkitan Ikuten Sinulingga.

Wartawan pun bertanya kepada Dahlan Iskan soal kunjungannya bersama para direksi dan general manager ke Asahan III. Judul kunjungan itu, menurut Dirut PLN, untuk mendengar aspirasi masyarakat dan syukuran bersama warga. Tatap muka dengan warga di sekitar lokasi PLTA Asahan III itu. Atas kunjungan itu, Pemprovsu merasa kurang senang karena tidak ada koordinasi dengan Gubsu, Bupati Asahan atau Bupati Tobasa. “Saya merasa tidak ada sopan santun yang saya langgar,” jawab Dahlan.

Mengenai syukuran hari ini, Dahlan mengatakan hanya untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah alam Danau Toba yang mengalir ke Sungai Asahan. Agar, pembangunan PLTA Asahan III segera ada solusinya dan cepat terwujud. Jika pembangkit tenaga air ini tidak segera dibangun, Sumut akan krisis listrik mulai 2013. Yakni kembali lagi pada penderitaan krisis listrik selama empat tahun terakhir.

Dua hari lalu, Gubsu melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Eddy Syofian meminta kepada pihak PT PLN agar tidak membangun konflik di tengah masyarakat sehubungan dengan kegiatan syukuran yang dikaitkan dengan pembangunan PLTA Asahan III. Hal ini ditegas Gubsu melalui Eddy Syofian MAP di Gubernuran Medan, Selasa (11/5) sore sehubungan adanya undangan dari Pimpinan PT PLN Proyek Induk dan Jaringan Sumut, Aceh dan Riau Ir Bintatar Hutabarat. Undangan dimaksud berupa acara Selamatan dalam rangka ’Dimulainya Pelaksanaan Pembangunan Asahan III’ pada hari Jumat, 14 Mei 2010 di Desa Tangga Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan.

“Karena kegiatan ini tidak diketahui oleh pemerintah daerah, kami minta pihak PT PLN harus arif mengantisipasi jangan sampai terjadi konflik  di tengan masyarakat bahkan bisa berkepanjangan akibat tidak diketahuinya kegiatan ini oleh pemerintah setempat. Kondisi ini justru akan menciptakan instabilitas. Padahal Sumut saat ini masih berada dalam keadaan kondusif, karena hubungan yang harmoni antara masyarakat dengan pemerintah daerahnya,” lanjutnya.

Menyikapi pernyataan itu, Dahlan menegaskan, manajemen PLN sama sekali tidak berniat ’membangun konflik’. Juga tidak sedang memposisikan diri sebagai pihak yang tak mengindahkan sopan santun. PLN, kata Dahlan, bisa saja bersabar setahun atau dua tahun lagi. Sambil menunggu izin lokasi yang sudah diberikan kepada perusahaan swasta, berakhir masa berlakunya. Lalu, PLN mengajukan permohonan izin lagi. Bahkan, PLN juga rela proyek raksasa yang ditaksir berbiaya 330 juta dolar AS ini dibatalkan. “Tidak apa-apa bagi kami (PLN). Demi sopan santun, demi menjaga perasaan, demi menjaga apa lagi. Nggak apa-apa tak jadi (dibangun). Asalkan seluruh masyarakat Sumatera Utara juga bisa menerima kenyataan pada tahun 2013-2014 nanti, krisis listrik lagi. Silakan,” katanya bernada jengkel.

Pada beberapa kesempatan, Gubsu menyatakan sangat berkeinginan agar listrik sebesar 2×87 Mega Watt (MW) dari PLTA Asahan III dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat Sumatera Utara. Menanggapi hal ini, Dahlan mengatakan sangat sependapat bahwa listrik dari PLTA Asahan III dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Ia memberi ilustrasi, listrik itu tidak mungkin dialirkan ke Pulau Jawa, atau dijual ke Malaysia apalagi ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok). “Listrik itu memang untuk memenuhi kebutuhan warga Sumatera Utara. Jadi, pernyataan Gubsu bahwa listrik ini untuk kemaslahatan rakyat Sumut adalah pernyataan sangat bagus. Jika saya pun Gubsu pasti akan berpikir dan berbuat seperti itu,” katanya.

Dahlan mengatakan, PLN ingin menangani proyek Asahan III agar masyarakat Sumut benar-benar menikmati manfaat listriknya. Jika Asahan III dimiliki PLN plus Pemprovsu atas nama masyarakat Sumut, maka sangat sulit jatuh atau dijual ke pihak asing. Untuk melepas aset negara, kata Dahlan, misalnya rumah dinas yang tidak terurus atau mobil dinas yang tidak dioperasikan saja, tidak mudah. Apalagi Asahan III, nantinya menjadi aset negara. “Tapi kalau Asahan III jadi milik swasta, kapan pun bisa dijual kepada siapa pun. Tanpa izin siapa pun,” tegasnya.

Pada konferensi pers itu, wartawan dari Jakarta maupun Medan, bertanya soal kesiapan PLN membangun PLTA Asahan III dan serta pendanaannya. Dahlan memaparkan, saat ini PLN sudah merampungkan desain teknis, studi kelayakan dan pembiayaan. “Semuanya sudah kami siapkan. Jika dibangun hari ini, 36 bulan selesai. Serta pas mengantisipasi krisis listrik tahun 2013,” tegasnya.

Ia mengatakan, pada bulan Juni 2010 ini akan memulai membuka tender PLTA Asahan III. Agar proses tender menentukan harga keekonomian yang mungkin masih dapat menghemat dari taksiran biaya. “Pemilik Asahan I juga boleh ikut tender,” katanya.

PLN juga berupaya menjawab keinginan masyarakat dalam proyek Asahan III. Yakni, kata Dahlan, keinginan agar krisis listrik tidak terulang lagi, keinginan agar PLTA Asahan III jadi aset negara, keinginan supaya Asahan III milik PLN dan warga Sumut, keinginan agar tidak jatuh ke pihak asing. “Tidak ada keinginan saya, agar Dahlan dapat komisi, agar Dahlan dapat proyek. Tapi, keinginan supaya saya jalan-jalan ke Medan, ya ada lah,” kata Dahlan yang baru dua kali ke Medan setelah menjabat Dirut PLN.

Bagaimana soal penyertaan saham yang diminta Gubernur Sumatera Utara? Berapa persen sahamnya? Menjawab pertanyaan wartawan itu, Dahlan dengan singkat menjawab, “Tergantung perundingan nanti.”

Sumut Pos

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.