Monday, October 23, 2017

PLN bidik investasi Rp11 triliun dari China

April 5, 2010 by  
Filed under Geothermal

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan investasi dan pendanaan baru di sektor ketenagalistrikan paling sedikit bisa masuk sekitar Rp11 triliun, sejalan dengan rencana kedatangan Perdana Menteri China Wen Jiabao pada bulan ini.

Dahlan Iskan, Dirut PLN, mengungkapkan target adanya komitmen pendanaan dari negara Tirai Bambu tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan investasi di beberapa pembangkit listrik milik perseroan tersebut.

“Untuk proyek listrik, kami akan mengajukan soft loan [pinjaman lunak] kepada Perdana Menteri China. Ada beberapa pembangkit listrik yang akan kami tawarkan kepada mereka [China] agar bisa diberikan pinjaman,” tuturnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Penawaran tersebut, kata dia, rencananya akan dibicarakan bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa pada saat kunjungan Wen Jiabao pada April ini.

Menurut dia, beberapa proyek pembangkit yang ditargetkan bisa mendapatkan pendanaan dari China, di antaranya pembangkit listrik berbahan bakar batu bara PLTU Pangkalan Susu 2×100 MW sekitar Rp2,5 triliun, PLTU Pontianak 2×50 MW sebesar Rp1,5 triliun.

Selain itu, juga ada beberapa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berlokasi di luar Jawa berkapasitas total 400 MW dengan nilai investasi sekitar Rp7 triliun.

“Itu [soft loan] kan usulan PLN. Nanti juga tergantung pemerintah bagaimana sebaiknya. Kami harapkan bisa mendapatkannya karena soal dana sangat penting bagi PLN yang membutuhkan investasi cukup besar,” tutur Dahlan.

Di sisi lain, Anggota Komite Penanaman Modal Bidang Teknologi Energi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Meirios Moechtar mengungkapkan rencana kunjungan Perdana Menteri China itu biasanya tidak akan mendatangkan investasi baru, melainkan bantuan pendanaan dan lainnya.

“Untuk listrik, kalau dari China hingga saat ini lebih  banyak sebagai kontraktor dari pada investor. Biasanya kontraktor itu akan membantu kita mendapatkan pendanaannya dari bank-bank BUMN China,” tuturnya.

Seperti tahun lalu, dia mencontohkan sebagian besar proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap I mendapatkan pendanaan dari kontraktor sekitar US$12-US$13 miliar. “Itu [sumber dana] hampir semuanya dibawa oleh kontraktor China karena mereka yang menang. Kelihatannya untuk tahun ini juga akan masuk kontraktor konstruksi yang merupakan BUMN China terbesar. Selama ini mereka belum pernah masuk.”

Menurut dia, kontraktor asal China yang merupakan pemain lama seperti Shanghai Electeric Corp, Dongfang Electric Corp, dan Harbin Power tetap berkeinginan masuk di Indonesia. Hanya saja, tegas dia, kontraktor China diperkirakan tidak akan banyak ikut andil dalam proyek 10.000 MW tahap II karena porsi pembangkit geothermal lebih besar dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar batu bara.

“China itu unggul untuk proyek PLTU [pembangkit listrik tenaga uap], tetapi mereka kurang ahli untuk geothermal. Makanya, komitmen pendanaan untuk proyek 10.000 MW tahap II ini belum tentu dari China,” kata Meirios.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.