Sunday, March 26, 2017

PGN Defisit Pasokan Gas Untuk Industri Dibatasi

March 1, 2010 by  
Filed under BBG, Featured

Industri manufaktur akan dikenai surcharge (biaya tambahan) jika menggunakan gas melebihi batas yang ditetapkan.

PT Perusahaan Gas Negara (PGN) berencana memangkas 20% pasokan mereka kepada sektor industri manufaktur. Hal itu guna menyiasati kekurangan pasokan gas karena tidak diperpanjangnya kontrak pasokan dari lapangan Pertamina Offshore North West Java (ONWJ) ke PGN.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan itu di sela pertemuan antara Direksi PGN dan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) di Kementerian Perindustrian, akhir pekan lalu. Menurutnya, industri manufaktur juga akan dikenai surcharge (biaya tambahan) jika menggunakan gas melebihi batas yang ditetapkan.

“Ini masih dibicarakan. Pokoknya harus win-win solulion,” ujarnya. Menperin menyambung, keputusan itu masih dikaji. Namun, ia menekankan agar dalam pengambilan keputusan tidak ada industri yang tutup. Jika kesepakatan tersebut mulai diaplikasi, mekanisme surcharge akan berdampak pada harga gas yang sedikit lebih tinggi.

“Nanti ini dapat berdampak dengan naiknya harga. Makanya ini terus kita bicarakan.” Sementara itu, Direktur Utama PGN Hendi PrioSantoso mengatakan rencana pengurangan 20% suplai gas untuk industri terjadi akibat tidak diperpanjangnya kontrak pasokan gas dari lapangan Pertamina ONWJ dengan volume 65 million metric standard cubic feet per day (mmscfd/juta metrik standar kaki kubik per hari) ke PGN.

Tidak diperpanjangnya kontrak itu mengakibatkan kelangkaan pasokan gas di hulu. Lebih rind, Vice President Communications PT Pertamina (persero) Basuki Trikora Putra membenarkan kontrak perjanjian jual beli gas antara ONWJ dan PGN tidak diperpanjang.

Dia tidak merinci alasan tidak diperpanjangnya kontrak yang telah berlangsung selama 14 tahun itu, yang berakhir kemarin. Dia hanya menyebut kontrak sebenarnya telah berakhir pada 31 Desember 2009 lalu, tetapi sempat diperpanjang sampai dua bulan. “Hari ini (Minggu, 28/2), kontrak tersebut berakhir,” ujarnya.

Menurut Basuki, berakhirnya kontrak ini sudah dibicarakan dengan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BP) Migas dan PGN. “Sejak 2009 kita sudah bicara dengan BP Migas dan PGN secara business lo business (B lo B). Belum ada kesepakatan baru, sampai kontrak berakhir. Di sisi lain, dengan cadangan yang ada, Pertamina ONWJ juga sudah punya kontrak dengan konsumen lain dan harus memenuhi kontrak,” ujar Basuki.

Kinerja anjlok

Saat menanggapi itu, Ketua Umum Asaki Achmad Widjaya menyatakan rencana pemangkasan pasokan gas sangat berimbas pada industri keramik, sebagai pengguna gas terbesar di sektor manufaktur setelah pupuk. Pemangkasan pasokan gas mengakibatkan utilisasi industri keramik anjlok dan akan berimbas pada pengurangan tenaga kerja.

Diperkirakan, ada 500 ribu tenaga kerja di sektor industri keramik yang kini terancam terkena program efisiensi. Karena itu, Achmad meminta pemerintah tegas dalam membela kepentingan masyarakat luas. “Pemerintah harus mengkaji ulang kebijakan itu. Di satu sisi kita bilang tidak ada gas, tapi di sisi lain PGN mengutip surcharge. Jadi, sebenarnya yang mana kebijakan, yang mana hukum dagang?” tanyanya.

Media Indonesia
Rini Widuri Ragilia

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.