Monday, October 23, 2017

Pertamina Tanggung Asuransi Korban Elpiji

May 12, 2010 by  
Filed under BBG, Featured

Maraknya kasus ledakan gas dari tabung elpiji 3 kg membuat PT Pertamina (persero) kembali disorot. BUMN migas ini dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai insiden tersebut. Pertamina pun menyediakan asuransi untuk setiap peristiwa yang disebabkan oleh kebocoran gas bersubsidi ini.

“Sesungguhnya sejak program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg bergulir, program asuransi ini sudah berjalan dan disalurkan. Mungkin kurang tersosialisasikan,” ujar Sekretaris Perusahaan Pertamina Toharso, di Jakarta, Jumat (7/5).

Untuk korban meninggal dan cacat premi asuransi yang akan diberikan mencapai maksimal Rp50 juta. “Sementar untuk biaya pengobatan maksimum Rp25 juta. Untuk bangunan juga ada bantuan sesuai dengan tingkat kerusakan,” papar Toharso.

Namun hal itu dilakukan setelah ada verifikasi dari tim Pertamina dan pihak kepolisian.

“Tentunya Pertamina hanya akan memberikan santunan untuk kasus kecelakaan yang disebabkan kebocoran gas, bukan karena tindakan kecerobohan dalam penggunaan tabung tersebut,” ujarnya.

Pihaknya telah menunjuk anak usaha Pertamina, PT Asuransi Tugu Pratama, sebagai pelaksana dan penanggung asuransi ini.

Terkait banyaknya beredar tabung asli tapi palsu (aspal) yang diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaaan, Pertamina mengaku sudah berupaya maksimal mengatasinya. “Pertamina tidak diam dan terus melakukan pengecekan. Karena berdasar standar operasi, tabung secara periodik akan ditarik per 5 tahun. Sementara untuk pemerikasaan dilakukan setiap tahun,” ujar Toharso.

Namun ia mengaku peluang penyelewengan bisa terjadi ketika tabung dari paket perdana beredar di masyarakat.

Saat ini jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBBE) mencapai 196 dengan 70 perusahaan yang terdaftar sebagai produsen tabung dengan kapasitas produksi mencapai dari 50 juta unit.

“Sebenarnya sudah kelebihan pasokan. Saat tabung beredar di masyarakat, bisa saja masuknya tabung palsu yang digunakan untuk mengisi ulang elpiji,” ujarnya.

Menurutnya, kebakaran karena gas elpiji yang bocor dari penelitian di lapangan sering terjadi dalam kondisi ruangan yang tertutup (dapur).

“Saat gas terakumulasi masyarakat harus menghindari untuk menyalakan api ataupun listrik. Bawa tabung keluar ruangan untuk melepas gas yang bocor,” ujar Toharso.

Hal lain yang menjadi penyebab kebocoran adalah tidak maksimalnya fungsi karet pelindung (rubber seal).

“Selama ini kita berikan kepercayaan kepada SPBBE untuk melakukan pengadaan sendiri. Namun mencermati kondisi saat ini, Pertamina akan menyediakan sendiri alat itu dengan standar perusahaan,” tutur Toharso.

Dalam catatan Pertamina, pada 2008 tercatat 27 insiden yang dikaitkan dengan kebocoran gas. Pada 2009 tercatat 9 insiden dan tahun ini beru tercatat 6 kasus.

Karena itu pihaknya berjanji akan terus mengintensifkan sosialisasi aspek pengenalan material konversi, melakukan investigasi dan pengujian kualitas logam untuk tabung tersebut.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.