Saturday, October 21, 2017

Pertamina Geothermal garap pasar listrik industri tambang

March 24, 2010 by  
Filed under Geothermal

PT Pertamina Geothermal Energy akan melakukan ekspansi dengan menggarap pasar listrik untuk industri pertambangan menyusul adanya kewajiban perusahaan di bidang itu untuk membangun pabrik pemrosesan yang umumnya membutuhkan listrik 100MW-200 MW.

Dirut PGE Abadi Poernomo mengatakan berdasarkan Keppres No.45/1991 Pertamina dibolehkan untuk menjual produk panas bumi kepada pihak lain di luar PT Perusahaan Listrik Negara. PGE, tuturnya, bisa menggunakan Keppres tersebut untuk menjual panas bumi kepada pihak lain secara point to point tanpa melalui jaringan transmisi dan distribusi PLN.

Menurut dia, ekspansi itu bisa ditujukan kepada industri-industri tertentu karena masih terjadi kesenjangan jarak antara lokasi pengembangan panas bumi dan industri. Pertambangan, tuturnya, masih merupakan satu-satunya industri yang sesuai untuk mengkonsumsi listrik panas bumi.

“Industri tambang itu kan butuh listrik skala besar, bisa 100 MW-200 MW. Selama ini, selain mendapatkan listrik dari PLN mereka bangun sendiri. Tetapi kalau misalnya bisa kami tangkap peluang itu kenapa tidak?” katanya hari ini.

Dia menjelaskan PGE telah menyusun road map pengembangan bisnis jangka panjang perusahaan, yang salah satunya menyebutkan rencana ekspansi tersebut. Namun, dia menolak mengungkapkan perusahaan mana saja yang sudah menyatakan ketertarikannya atau telah diincar PGE untuk menjadi konsumen listriknya.

“[Rencana ekspansi] Itu ada, tetapi ini terkait dengan strategi perusahaan dan belum bisa kami ungkapkan saat ini. Kalau itu direalisasikan kami akan membangun PLTP dari hulu hingga hilir seperti yang sudah ada di Kamojang IV, lalu Ulubelu, dan Lumut Balai,” katanya.

Kebutuhan tenaga listrik untuk industri pertambangan akan meningkat seiring dengan penerapan UU No.4/2010 tentang Mineral dan Batu bara yang mewajibkan pemodal untuk membangun pabrik pemrosesan di dalam negeri. Satu unit pabrik pemrosesan nikel Feni III milik PT Aneka Tambang Tbk, misalnya, membutuhkan listrik dengan kapasitas 102 MW.

Terkait harga, tuturnya, PGE bisa menerapkan skema tarif secara business to business (b to b). Dia mencontohkan apabila harga jual listrik dari PGE kepada PLN dipatok paling tinggi sebesar US$0,097 per kWh, perusahaan bisa menjual ke konsumen industri sebesar US$0,11 per kWh.

“Kalau menjual ke PLN kan ada unsur subsidinya dan tidak mungkin juga kami menjual dengan harga tinggi karena ini terkait pula dengan APBN. Namun, untuk konsumen industri harapannya kami bisa lepas harga listriknya sebesar US$0,11—US$0,12 per kWh,” katanya.

Namun, Abadi mengatakan rencana ekspansi itu tidak akan mengurangi komitmen perusahaan untuk memasok kebutuhan listrik bagi PLN. Saat ini, tuturnya, upaya PGE masih difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan listrik PLN, termasuk melalui program 10.000 MW tahap II.

“Opportunity itu harus terus diciptakan dan digarap dengan baik karena sebagai entitas bisnis, kami juga mesti mencari laba. Tetapi, untuk saat ini kami memang akan fokus dulu mengatasi shortage listrik PLN,” katanya.

Baru-baru ini, Abadi mengatakan perusahaan berkomitmen untuk mengeksplorasi 33 sumur panas bumi baru dengan perkiraan investasi sebesar US$250 juta. Jumlah itu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai US$130 juta dengan 23 sumur eksplorasi.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.