Tuesday, May 23, 2017

Perjanjian Jual beli gas Conoco & Chevron segera efektif

March 26, 2010 by  
Filed under BBG

Perjanjian jual beli gas antara ConocoPhilips dan Chevron Pacific Indonesia segera efektif menyusul akan ditandatanganinya gas transportation agreement (GTA) pipa Grissik-Duri.

Perjanjian dilakukan setelah Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi menuntaskan evaluasi draf final Access Arrangement (AA) pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia itu hari ini.

Access Arrangement adalah suatu dokumen yang dibuat oleh transporter dan berisikan syarat dan kondisi yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan bersama pipa yang dimilikil atau dikuasai transporter, yang berlaku mengikat para pihak setelah disetujui dan disahkan oleh Badan Penqatur Hilir Migas.

Kepala Dinas Analisis dan Evaluasi Pasar Minyak dan Gas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Rudi Satwiko mengatakan pasokan gas untuk Chevron Pacific Indonesia bisa melebihi volume yang ada dalam kontrak awal, yang sebelumnya disebutkan sebesar 322 mmscfd.

Hal itu, tuturnya, karena Chevron memiliki kontrak yang memungkinkan penambahan jumlah pasokan gas dari ConocoPhilips, yaitu kontrak PTEA [Petroleum Exchange Agreement] yang tidak ada ketentuan mengenai penambahan volume gas dan kontrak GSEA[Gas Sales Exchange Agreement] 1 dan 2 yang memungkinkan penambahan volume.

“Nah sekarang kalau mau ganti GSEA itu menjadi GSA, harus ada perubahan GTA yang itu lebih dulu, yang  mesti didahului dengan ketetapan mengenai access arrangement [AA]. AA ini draf finalnya sudah selesai pagi ini setelah disirkulasikan ke pada pihak dan GTA segera diteken sehingga GSA 3 segera efektif menggantikan kontrak-kontrak sebelumnya,” katanya hari ini.

Kepala BPH Migas Tubagus Haryono yang dihubungi Bisnis.com semalam mengatakan instansinya memang telah memasuki tahap finalisasi pembahasan AA, baik pipa Grissik-Duri maupun Grissik-Singapura yang dimiliki oleh transporter yang sama, yaitu TGI. Dirut TGI Irwan Tascha sebelumnya juga mengatakan pembahasan teknis mengenai AA sudah mengalami kemajuan.

Dengan aktifnya GSA, Rudi Satwiko menjelaskan transaksi gas antara ConocoPhilips dan Chevron akan benar-benar menjadi transaksi jual beli. Untuk volume gas yang akan dipasok kemungkinan tidak jauh berbeda dengan volume yang disalurkan saat ini, yaitu sekitar 402 mmscfd.

“Karena Duri membutuhkan uap yang besar, kalau tidak, target lifting dalam APBN tidak tercapai,” katanya.

Seperti diketahui, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk mengeluhkan berkurangnya pasokan gas dari ConocoPhilips yang akan dipasok ke Jawa bagian Barat. ConocoPhilips disebut-sebut memasok gas sebanyak 402 mmscfd Chevron atau lebih tinggi sekitar 80 mmscfd dari kontrak yang hanya sebesar 322 mmscfd.

Selain itu, ConocoPhilips juga disebutkan juga mengambil gas bagian PGN dari Corridor untuk Singapura sebanyak 30 mmscfd setelah lapangan South Jambi milik COnocoPhilips gagal memasok gas sesuai nominasi sebanyak 40 mmscfd, dan hanya menyanggupi sebanyak 10 mmscfd.

Anggota Komisi VII DPR F-PG Satya W. Yudha mengatakan pemerintah perlu memperhatikan kemungkinan efisiensi penggunaan gas untuk Chevron sehingga tidak sebesar volume yang digunakan saat ini.

Dengan efisiensi tersebut, tuturnya, gas yang tidak jadi terpakai itu bisa pasok ke PGN untuk didistribusikan ke industri dan pembangkit listrik di Jawa bagian Barat.

“Misalnya dengan penggantian pembangkit listrik Cogen yang berbasis gas dikonversi menjadi batu bara. Memang akan menyedot investasi cukup besar dan waktu, tetapi dengan menggantikannya dengan pembangkit listrik berbasis batu bara, setidaknya bisa mengamankan kepentingan lain yang berjangka panjang,” katanya.

Terkait dengan usulan itu, Rudi Satwiko mengatakan efisiensi penggunaan gas Chevron memang merupakan kewajiban BP Migas untuk memonitor, termasuk juga dengan pertimbangan permintaan gas di Jawa bagian Barat yang memang tinggi.

Namun, untuk usulan penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara untuk menggantikan Cogen, dia menilai hal itu bisa dilakukan selama sisa cadangan yang dimiliki masih tinggi dan ekonomis, karena terkait dengan penambahan biaya.

“Kalau cadangan minyaknya masih banyak, oke [konversi Cogen ke PLTU batu bara]. Kalau tidak, konversi itu justru hanya akan menambah cost recovery,” ujarnya

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.