Friday, January 20, 2017

Penanganan Emisi Gas Rumah Kaca dan Manajemen Energi

February 9, 2011 by  
Filed under Alternatif, Featured, Solar Cell

Energi –  Terlepas dari kontroversinya, isu perubahan iklim sudah menjadi arus utama pemikiran dunia saat ini. Rangkaian konferensi, seminar hingga pembentukan badan-badan internasional dilakukan untuk penanganan isu tersebut. Sebagai bagian dari komunitas internasional, Indonesia ikut berkomitmen terhadap hal tersebut.

Melalui pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam G20 Leaders Summit 25 September 2009, di Pittsburgh, Amerika Serikat, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi  gas rumah kacanya setidaknya 26 % (business as usual) atau 41 % (dengan bantuan internasional) dari skenario normal pada tahun 2020. Sebagailangkah tindak lanjut, disusun roadmap penurunan emisi GRK per sektor termasuk sektor energi. Dalam roadmap tersebut sektor energi dan transportasi diberikan tugas untuk menurunkan emisi GRK sebesar 5% dari skenario 26%.

Dari sisi legislasi Indonesia sudah selangkah lebih maju. Hal ini bisa dilihat dari adopsi substansi mengenai emisi GRK dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 63 undang-undang tersebut menyatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki tugas untuk menyelenggarakan inventarisasi emisi GRK sesuai kewenangannya. Selain inventarisasi, juga dilakukan mitigasi perubahan iklim melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upaya menurunkan tingkat emisi GRK tersebut (pasal 57).

Bagaimana hubungan emisi GRK dan manajemen energi?. Emisi GRK memiliki kaitan erat dengan manajemen energi. Manajemen energi terkait dengan strategi optimalisasi energi, penggunaaan sistem dan prosedur untuk menurunkan kebutuhan energi per unit output produk namun dengan tetap mempertahankan atau memperkecil total biaya produksi. Tujuan utamanya adalah menurunkan energi dengan mempertahankan atau mengurangi biaya produksi. Sehingga pembahasan mengenai emisi GRK akan selalu berdampingan dengan manajemen energi.

Dari segi perangkat hukum, Indonesia sudah memiliki legislasi terkait energi yaitu Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi dan Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi.  Dengan adanya PP tentang Konservasi Energi ini, bagi pengguna energi yang menggunakan energi sama atau lebih besar dari 6000 setara ton minyak (TOE) per tahun wajib melakukan konservasi energi melalui manajemen energi yang meliputi penunjukan manajer energi, penyusunan program konservasi energi, pelaksanaan audit energi secara berkala, melaksanakan rekomendasi hasil audit energi, dan pelaporan pelaksanaan konservasi energi setiap tahun kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Hal yang paling mendasar adalah membangun kesadaran (awareness raising) terhadap pengendalian emisi GRK dan manajemen/konservasi energi. Kesadaran yang dimaksud tentunya bertahap dalam tingkatan sektor, institusi hingga individu. Hal yang harus sama-sama disadari adalah bahwa emisi GRK yang berasal dari kegiatan manusia berkontribusi terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim akibat kegiatan manusia bersifat global sehingga seluruh dunia harus menjadikannya sebagai tujuan internasional. Oleh karena itu dunia harus memandang upaya penurunan emisi GRK adalah penting adanya guna mitigasi perubahan iklim. Dengan menjadikan entry point melalui isu emisi GRK, kita dapat menangani manajemen energi secara paralel.

Perusahaan-perusahaan yang leading di dunia sudah mulai mengadopsi isu emisi GRK ke dalam corporate values mereka bahkan beberapa juga sudah menjadikan emisi GRK menjadi key performance indicator (KPI) mereka. Kita tidak usah berbicara panjang lebar mengenai memasukkan emisi GRK ke dalam KPI, karena hal itu merupakan langkah sudah jauh, namun hal tersebut merupakan keniscayaan di masa depan. Untuk itu kita akan belajar dari learning curve perusahaan-perusahaan tersebut dalam penanganan emisi GRK (dan manajemen energi).

Secara garis besar tahapan-tahapan yang sebagian besar perusahan-perusahan tersebut lakukan dalam rangka menangani masalah emisi GRK adalah sebagai berikut:

  • Pemahaman profil emisi. Hal mendasar adalah mengetahui profil emisi GRK dalam rangkaian proses produksi yang terjadi. Pada prinsipnya setiap kegiatan memproduksi barang akan mengeluarkan emisi GRK terlebih perusahaan-perusahaan dalam sektor energi karena selain dari sektor LULUCF (land use, land use change, forestry), sektor energi merupakan kontributor utama emisi GRK. Profil emisi GRK dibuat dengan melakukan perhitungan-perhitungan terhadap seluruh mata rantai produksi yang berpotensi mengemisikan GRK. Memiliki profil emisi berarti memiliki basis data yang akan digunakan sebagai benchmarking di masa depannya.
  • Penyempurnaan manajemen energi dan GHG dalam lini operasi. Setelah kita memiliki profil emisi GRK institusi kita, maka langkah selanjutnya adalah melakukan perubahan dalam manajemen energi. Review dilakukan terhadap proses operasi untuk mengidentifikasi peluang-peluang penghematan energi.
  • Adanya komitmen untuk pengembangan teknologi emisi rendah (low emissions technology), pelaksanaan project-based emissions reductions serta mendorong upaya-upaya pengurangan emisi GRK yang dilakukan oleh karyawan serta komunitas lokal sekitar.
  • Kerjasama dengan pemerintah dan stakeholders lain dalam pengembangan kebijakan pengurangan emisi GRK termasuk insentif bagi industri serta penyiapan perangkat yang efektif. (JS)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.