Thursday, March 30, 2017

Pembatasan Gas Industri Manufaktur belum Final

March 3, 2010 by  
Filed under BBG

Industri manufaktur merupakan penyokong tertinggi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

PEMERINTAH berencana untuk membicarakan keputusan PP Perusahaan Gas Negara (PGN) yang akan memangkas 20% pasokan mereka kepada sektor industri manufaktur di tingkat Kementerian Koordinator Perekonomian.

Pembicaraan akan dilakukan bersama tiga pihak, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BP) Migas, serta Pertamina. Menteri Koordinator (Men-
ko) Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan itu, kemarin, di Jakarta. Menurutnya, pemerintah akan mengkaji ulang keputusan pembatasan pasokan gas itu. “Kita (akan membahas) dengan ESDM, BP Migas, dan juga Pertamina, agar masalah ini diselesaikan.”

Pasalnya, saat ini, ada beberapa kilang yang bisa meningkatkan pasokan gas. “Ada beberapa blok yang mulai berproduksi,” ungkap Hatta. Karenanya, dia meminta agar persoalan gas tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Seperti diberitakan (Media Indonesia, 1/3), guna menyiasati kekurangan pasokan gas karena tidak diperpanjangnya kontrak dari lapangan Pertamina Offshore North West Java (ONWJ), PGN berencana memangkas 20% suplai mereka kepada sektor industri manufaktur.

PGN juga akan mengenakan surcharge (biaya tambahan), jika industri menggunakan gas melebihi batas yang ditetapkan. Kontan, keputusan itu memancing reaksi keras dari kalangan industri. Sebagaimana diungkap Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia Achmad Widjaya, pemangkasan itu akan mengakibatkan utilisasi produksi industri keramik terpotong. Dengan terpangkasnya utilisasi, akan berimbas pula pada pengurangan tenaga kerja.

Diperkirakan, ada 500 ribu tenaga kerja yang saat ini tere-krut di sektor industri keramik terancam program efisiensi. Karenanya, Achmad meminta pemerintah tegas membela kepentingan masyarakat luas. Pengamat ekonomi Umar Juoro juga mengatakan pemerintah harus segera menyelesaikan persoalan pasokan gas ini. Hal itu guna mengangkat pertumbuhan pada sektor industri manufaktur.

Pasalnya, pada tahun ini,sebagai dampak Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) saja, manufaktur diperkirakan sudah kesulitan untuk mencapai target pertumbuhan yang dipatok pemerintah, sebesar 4,2%-4,3%. Bahkan, dalam perhitungan Umar, pertumbuhan industri manufaktur pada 2010 akan berada di bawah pertumbuhan tahun lalu, sebesar 2,1%. “Pemangkasan ini malah menekan industri manufaktur. Karena tidak gampang bagi mereka pindah dari gas ke listrik,” katanya, kemarin.

Sumbangan PDB Adapun, industri manufaktur merupakan penyokong tertinggi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) lndone-sia. Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari situsnya, pada 2009, sektor ini menyumbang 26,4% struktur PDB Indonesia.

Kemudian disusul sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sebesar 15,3%, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 13,4%. Namun, sumbangan industri manufaktur pada struktur PDB 2009 turun jika dibandingkan dengan 2008. Di 2008, sektor ini mendekati 28%.

Kemerosotan kontribusi manufaktur tidak terlepas dari kelambanan pemerintah merespons masukan maupun keluhan pengusaha. Seperti diungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Moneter, Fiskal dan Kebijakan Publik Hariyadi B Sukamdani, selama ini kebijakan fiskal diharapkan menjadi insentif untuk mendorong laju pertumbuhan industri. Tapi nyatanya . malah menjadi disinsentif pada , akhirnya. Ini terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakhir,” kataHariyadi.

Media Indonesia

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.