Friday, January 20, 2017

Pekan Depan, Diperkirakan Stabil di Atas 80 Dolar AS per Barel

February 25, 2010 by  
Filed under BBM, Featured

JAKARTA.  Harga minyak di perdagangan Asia, Rabu kemarin (24/2), naik lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya. Turunnya cadangan minyak mentah di Amerika Serikat (AS) memberi sinyal meningkatnya permintaan di negara konsumen energi paling besar  di dunia.

Kontrak utama berjangka minyak mentah jenis light sweet crude di New York untuk pengiriman April naik 40 sen menjadi 79,26 dolar AS per barel. Sedangkan harga minyak Laut Utara Brent di London untuk pengiriman April naik 38 sen ke 77,63 dolar AS per barel.

Kalangan analis mengatakan, harga minyak mendapat sokongan dari laporan Amerika Petroleum Institute (API) yang menunjukkan cadangan minyak mentah untuk sepekan turun 3,13 juta barel. Padahal sebelumnya kalangan analis memperkirakan kenaikan cadangan 2,0 juta barel. “Informasi turunnya cadangan minyak mentah mendorong pasar,” kata Manajer Risiko Energi Mitsubishi Corp di Tokyo Tony Nunan.

Analisis lainnya menyebutkan, kemarin, harga minyak dunia juga terdongkrak oleh tingginya posisi tawar. Ini terjadi meski sebelumnya sempat turun tajam karena dipicu oleh penurunan kepercayaan konsumen AS. Kekhawatiran atas pasokan karena pemogokan yang terjadi di raksasa energi Prancis, Total, dan ketegangan antara eksporter minyak mentah Iran dan negara-negara Barat karena ambisi senjata nuklir Teheran, juga memantapkan pasar selama beberapa hari. Faktor-faktor tersebut tetap akan menjadi pemicu kenaikan harga minyak mentah dunia pekan depan.

Turun Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, produksi minyak dan gas (migas) terancam menurun. Salah satunya akibat pemberlakuan Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) beserta peraturan pelaksananya

Target produksi yang ditetapkan 965.000 barel per hari bisa turun hampir separuhnya. Ini akibat persyaratan baku mutu lingkungan sesuai ketentuan UU PPLH tersebut,” kata Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Legowo. Menurut dia, sesuai UU PPLH, kontraktor mesti mengikuti aturan baku mutu lingkungan pada 1 April 2010. “Kontraktor bakal tidak sanggup memenuhinya,” ujarnya.

Sesuai UU tersebut, kontraktor migas diwajibkan menurunkan temperatur air buangan sebagai hasil proses pencairan minyak bumi atau gas dari 45 ke 40 derajat celcius. Menurut Evita, penurunan suhu akan menambah biaya dan juga membutuhkan waktu lama. Dalam ketentuan itu juga disebutkan adanya sanksi pidana bagi industri yang tidak mematuhi ketentuan baku mutu lingkungan. Dia lantas memperkirakan, dua kontraktor utama yakni PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina (Persero) akan paling terganggu produksinya.

Sementara itu, Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Budi Indianto mengatakan, pihaknya meminta waktu antara 2-3 tahun untuk memenuhi ketentuan baku mutu lingkungan. Pemenuhan ketentuan UU PPLH tersebut berimplikasi pada peningkatan biaya operasi yang dikembalikan negara (cost recovery). “Kami mesti kaji dulu biayanya. Jangan sampai kemahalan,” katanya.

APBN

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, asumsi patokan harga minyak dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBNP) akan turun menjadi 77 dolar AS per barel. “Harga minyak mungkin kita turunkan sedikit. Kemarin kan antara 75-80 dolar AS per barel, sekarang kita akan gunakan 77 dolar AS per barel,” katanya

Menurut dia, perubahan ini melihat perkembangan dan mempertimbangkan kondisi terakhir perekonomian terutama prospek terkini mengenai pemulihan ekonomi. Dalam penyusunan APBN 2010 harga minyak hampir

mendekati 80 dolar per barel. Ini mengingat kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas, maka angka 80 dolar AS per barel digunakan sebagai patokan awaL

Sementara itu, mengenai inflasi, Menkeu mengatakan, ada perubahan asumsi pada 2010. Ini karena Bank Indonesia melihat ada risiko lebih pada asumsi 5 plus-minus 1, seperti sekarang dan menjadi 6 persen.

“Inflasi ada perubahan, karena kemarin ada pernyataan dari BI yang mengatakan bahwa mereka melihat risiko lebih pada 5 plus 1. Maka kita juga melakukan evaluasi,” ujarnya

Menkeu juga menyatakan, ada perubahan dalam suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan menjadi 7 persen. Selain dengan kemungkinan perubahan asumsi nilai tukar yang saat ini masih di angka -RplO.000 per dolirr AS. Jadi dengan adanya perubahan asumsi ekonomi makro ekonomi ini, maka akan sangat berpengaruh dari sisi penerimaan negara “Sangat ada pengaruhnya sekitar Rp 9 triliun kalau tidak salah. Ini dari harga minyak dan dari perubahan kurs itu terhadap inflasi,” tutur Sri Mulyani.

Menkeu menambahkan, dengan adanya perubahan asumsi ekonomi makro yang sudah ditargetkan sebelumnya, realisasi deviasi (penyimpangan) asumsi APBN 2010 di bawah 3 persen. Ini setelah deviasi yang terjadi dalam APBN 2009 mencapai 2,9 persen.

Suara Karya

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.