Monday, May 22, 2017

Pasokan Gas tidak Pasti, Pengusaha jadi Pesimistis

January 10, 2011 by  
Filed under BBG, Featured

Energi ; Pemerintah masih sibuk berkalkulasi menghitung defisit gas untuk kebutuhan dalam negeri. Hal ini membuat kalangan industri pesimis bisa berkontribusi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6,3% tahun ini

“Masalah pasokan gas untuk industri, harapan ada setelah terbangunnya unit penyimpanan dan regasifikasi terapung (floating storaage and regasification unit/FSRU) di Teluk Jakarta. Memang peruntukkannya sebagian besar untuk PLN, tapi kita minta ada alokasi juga untuk industri,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Minggu (9/1).

Namun ia belum bisa memastikan besaran tambahan pasokan gas dari FSRU yang akan dikelola PT Nusantara Regas, perusahaan patungan PT Pertamina (persero) dengan PT Perusahaan Gas (persero) Tbk tersebut yang bisa memproduksi gas 500 juta metrik standar kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMscfd).

“Baru bisa dipastikan bisa akhir tahun ini atau awal tahun depan,” tukasnya.

Untuk kebutuhan tahun ini, imbuhnya, pemerintah masih menghitung semua kebutuhan gas nasional untuk menyesuaikan dengan jumlah produksi gas yang dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.

“Masih dikalkulasi antara pasokan yang ada dengan jumlah kebutuhan semua sektor. Kita upayakan semuanya terpenuhi semaksimal mungkin seiring pembangunan infrastruktur (pipa dan FSRU),” ujar Hatta.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Achmad Widjaja menyatakan pernyataan tersebut membuat pengusaha pesimistis untuk bisa berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi 6,3% tahun ini.

“Kalau masih dikalkulasikan artinya belum ada kepastian kebutuhan gas industri bisa dipenuhi. Sama saja memberikan pesimisme pada kami untuk bisa tumbuh atau sekedar bertahan. Kalau begitu, darimana pemerintah bisa berpijak untuk pertumbuhan ekonomi bila industri tidak tumbuh, stagnan bahkan harus tutup karena tidak mendapat alokasi gas,” tutur Achmad.

Menurutnya, alasan kontrak jangka panjang ekspor gas dan ketiadaan infrastruktur yang selama ini diutarakan pemerintah bukan menjadi hambatan untuk pemenuhan kebutuhan gas industri ini.

“Yang kami butuhkan adalah kepastian pasokan dari infrastruktur PGN yang sudah ada. Ini saja setiap tahun selalu defisit padahal para pemasoknya sudah jelas ada. pemerintah hanya butuh keputusan tegas yang secara politis mampu memaksa para kontraktir migas yang biasa memasok gas melalui pipa PGN itu untuk menempatkannya sebagai salah satu prioritas,” kata Achmad.

Ia sendiri pesimistis pasokan gas dari FSRU yang ditargetkan beroperasi akhir tahun ini atau awal 2012 mendatang tersebut akan ada alokasi untuk industri.

“Dalam kesepakatannya jelas, pembeli (offtaker) hanya untuk kebutuhan pembangkit PT PLN (persero). Kami tidak bisa berharap pasokan dari sana,” ujarnya.

Keluhan para pelaku industri ini terjadi karena hingga awal tahun ini dari total kebutuhan gas 1.520,74 juta metrik standar kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMscfd) untuk 17 sektor industri manufaktur pemerintah baru bisa menjanjikan pasokan 538 MMscfd untuk kebutuhan sepanjang tahun.

Ironisnya, alokasi ini justru lebih rendah dari realisasi pasokan gas 2010 yang mencapai 584 MMscfd.

Permintaan pasokan minimal 801 MMscfd, sama seperti permintaan tahun lalu, untuk sementara baru dipastikan patokan alokasi realistis sekitar 538 MMscfd.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.