Sunday, January 22, 2017

Pasokan gas Donggi-Senoro harus perhatikan industri Nasional

April 24, 2010 by  
Filed under BBG

Keputusan pengalokasian gas Donggi-Senoro hendaknya mempertimbangkan ketahanan pasokan energi dan bahan baku untuk industri di wilayah setempat.

pengalokasikan gas Donggi-Senoro 100% untuk domestik, diyakini bisa menimbulkan keuntungan 3 kali lipat dibandingkan dengan ekspor.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pemerintah jangan mengulagi kekeliruan yang terjadi di Papua dan Aceh, dengan mengalokasikan sebagian besar gasnya untuk ekspor dan menjadikan pasokan gas untuk wilayah setempat justru tidak memadai. Keputusan tersebut, tuturnya, justru telah menjadikan pabrik pupuk, pembangkit listrik, dan industri di wilayah setempat mati.

Menurut dia, ekspor gas memang bisa mendatangkan devisa negara yang cukup besar. Akan tetapi, katanya, hal itu justru menjadikan pemerintah mengeruk dana lebih besar untuk membayar subsidi listrik.

“Ekspor [gas] penting. Tetapi pemerintah tetap rugi karena harus membayar subsidi karena PLN harus pakai diesel. Biayanya bisa 4 kali lipat. Jadi, ekspor bisa saja bagus, tetapi kalau ke domestik, untungnya bisa 3 kali lipat karena menciptakan lapangan kerja, industri berkembang, dan kurangi subsidi, ” katanya hari ini.

Dia mengatakan alokasi 70 mmscfd untuk domestik kurang memadai dan hanya cukup untuk memasok pabrik pupuk. Tanpa menyebut berapa porsinya, Kalla mengatakan “Harus lebih banyak lagi agar industri berkembang.”

Kalla mengatakan harga pembelian oleh konsumen domestik seharusnya tidak dianggap sebagai hambatan. Berapapun harga beli yang dilakukan oleh konsumen domestik, tidak akan merugikan pemerintah.

“Kalau misalnya harga US$2 per juta Btu, artinya PLN akan untung, tetapi Pertamina tidak, dan pemerintah juga tidak perlu bayar subsidi. Kantong kanan, kantong kiri. Kalau harganya US$6 per juta Btu, mungkin Pertamina dan pemerintah dapat penerimaan lebih, dan kalaupun akan sedikit mahal di PLN, subsidinya juga kecil sekali..itu pun kalau ada,” katanya.

Agar tercipta harga yang lebih rendah, katanya, seharusnya investor bisa lebih efisien baik di sisi hulu ataupun usaha hilirnya. Menurut dia, investasi US$3,7 miliar terlalu besar untuk mengembangkan gas Donggi-Senoro.

“Apalagi biaya kilang sampai US$1,6 miliar. Di Amerika Serikat biaya bangun kilang LNG itu hanya US$600 juta. Saya sarankan untuk ditender dan kabarnya mereka mau melakukan tender ulang,” ungkapnya.

Namun, Kalla mengatakan keputusan mengenai alokasi gas Donggi-Senoro berada di tangan pemerintah. “Silakan saja kalau mau diputuskan [ekspor]. Suatu saat nanti rakyat yang akan melihat dan menilainya.”

Direktur Proyek Medco Energi Internasional Lukman Mahfoedz mengatakan situasi Aceh yang telah memiliki pabrik pupuk dan pembangkit listrik tenaga gas dan uap sama sekali berbeda dengan situasi di sekitar Donggi-Senoro yang sama sekali belum memiliki infrastruktur semacam itu. Bahkan, khusus Aceh perusahaan kini memiliki sumber daya gas bumi yang cukup untuk dipasok ke domestik yang sudah dua tahun menunggu persetujuan dari pemerintah.

“Sulawesi tidak akan sama, karena di sana belum ada pabrik pupuk dan PLN. Di samping itu untuk domestik apabila disetujui kami akan beri 50 mmscfd untuk PLN yang bisa sebagai bahan bakar PLTGU 2×100 MW,” katanya.

Lukman menjelaskan manfaat yang diperoleh daerah Sulawesi Tengah mencapai 30% dari penerimaan, yaitu sekitar US$140 juta per tahun atau Rp1,2 triliun. “Ini sangat berarti bagi Pemprov Sulteng dan Kabupaten Banggai yang APBD-nya masing-masing hanya Rp1 triliun dan Rp18 miliar per tahun. Jadi, kalau proyek ini tidak jalan maka yang paling dirugikan selain investor juga daerah Sulteng.”

Berdasarkan perhitungan konsorsium hulu, apabila alokasi 335 mmscfd untuk ekspor dan 70 mmscfd untuk domestik disetujui, pada harga US$70 per barel penerimaan negara bisa mencapai sekitar US$6,4 miliar.
Terkait dengan biaya investasi kilang, Lukman mengatakan biaya tersebut telah mengacu pada harga dari kontraktor-kontraktor yang telah selesai membangun kilang LNG. Harga yang diperoleh konsorsium Medco-Pertamina-Mitsubishi juga sudah dibandingkan dengan laporan konsultan independen, seperti Fesharaki, WoodMackenzie, dan CERA dan masih dalam kisaran yang wajar.

Biaya kilang DSLNG, katanya, sekitar US$800 jutaan per juta ton LNG. Untuk menyebut angka tersebut, Lukman mengatakan kontraktor harus mengetahui rancang bangun, lokasi, pekerjaan sipil, sistem transmisi pipa, pelabuhan dan lainnya.

“Menyebut angka tanpa mengetahui jelas cakupan kerja EPC bisa membingungkan. Konsorsium DSLNG bisa mengevaluasi dan mendapatkan angka yang tepat setelah menyeluarkan US$20 juta untuk pekerjaan rancang bangun. Lebih baik urusan Donggi-Senoro diserahkan saja ke instansi terkait seperti Kementerian ESDM, Ditjen Migas, dan BP Migas.”

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.