Sunday, October 22, 2017

LNG Bontang ke Jepang diputus 2020

March 10, 2010 by  
Filed under BBG

Pemerintah akan memutus ekspor gas bumi dalam bentuk LNG dari Bontang ke Jepang mulai 2020 dan mengalihkan sebagian besar gas yang akan diproduksi dari wilayah itu untuk bahan bakar listrik dan pemenuhan kebutuhan domestik lainnya.

Berdasarkan neraca gas yang diterbitkan Kementerian ESDM untuk periode 2010-2025, disebutkan gas dari Bontang secara kontraktual atau sudah ditandatangani GSA-nya akan berakhir pada 2017 dengan kecenderungan pengiriman turun dari 2.699 mmscfd pada 2010 menjadi hanya 382 mmscfd pada 2017. Volume gas yang masih dalam tahap komitmen kesepakatan HoA, MoU, MoA, dan negosiasi mulai 2011 hingga 2020 juga akan turun dari 465 mmscfd menjadi hanya 310 mmscfd.

Ekspor dikurangi, pasokan gas dialihkan untuk kebutuhan dalam negeri. Upaya pemenuhan terbesar dialokasikan untuk listrik yang meningkat dari di bawah 100 mmscfd menjadi rata-rata di atas 600 mmscfd yang dimulai pada 2011.

Pasokan untuk pupuk,yang merupakan kombinasi antara gas terkontrak dan dalam tahap komitmen akan dipertahankan di level 400 mmscfd.

Ekspor gas dari Nangroe Aceh Darussalam juga akan berkurang hingga mencapai titik nol pada 2015. Penurunan tersebut terjadi akibat berkurangnya cadangan yang ada di lapangan yang dikuasai ExxonMobil.

Satu-satunya ekspor yang masih bertahan, berdasarkan neraca gas tersebut adalah LNG Tangguh, Papua yang akan berada di kisaran 949 mmscfd hingga 1.052 mmsfcd. Ekspor yang masih bertahan adalah gas melalui pipa dari Sumatera Selatan dan Tengah yang akan berakhir pada 2023, dari rata-rata nominasi 368 mmscfd.

Ekspor gas melalui pipa dari Kepualauan Riau akan turun dari level 575 mmscfd pada 2010 menjadi hanya 80 mmscfd pada 2025 tanpa adanya tambahan komitmen. Namun, dari wilayah ini laporan itu tidak menggambarkan rencana produksi gas dari Natuna D Alpha yang dikuasai Pertamina.

Selain itu, neraca gas tersebut juga menetapkan seluruh gas yang diproduksi dari Sulawesi Tengah akan dipasok untuk kebutuhan domestik, terutama pupuk sebesar 161 mmscfd dan industri lainnya direncanakan 225 mmscfd. Gas yang sebagian besarnya akan bersumber dari Donggi-Senoro itu juga akan dipasok sebanyak 55 mmscfd untuk listrik.

Ketika dikonfirmasi, Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan neraca gas tersebut masih berupa perencanaan.

Menurut dia, kebijakan yang ditetapkan dalam neraca gas itu masih bisa berupa apabila layer penentu kebijakan di atasnya mengubahnya.

“Neraca gas itu masih perencanaan. Tentu layer lebih tinggi dapat mempunyai kebijakan lain,” katanya.

bisnis.com
Rudi Ariffianto

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.