Monday, July 24, 2017

Krisis Gas Negeri Firaun

February 22, 2010 by  
Filed under BBG, Featured

Sistem subsidi barang kebutuhan pokok Mesir sarat dengan kekacauan dan inefisiensi. Imbasnya, korupsi dan pasar gelap menjadi subur.

AMBOOBA, tabung gas subsidi pemerintah, merupakan barang kebutuhan pokok masyarakat Mesir. Karena dipakai untuk memasak atau memanaskan suhu ruangan, ambooba bisa dijumpai di hampir seluruh rumah di Negeri Firaun tersebut.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika terhentinya penyaluran ambooba di tengah musim dingin kali ini menyulut protes dan frustrasi masyarakat. Warga menuding pemerintah, lagi-lagi, gagal mengantisipasi kebutuhan mereka. Seperti terjadi pada 2008, saat masyarakat kehabisan stok roti subsidi pemerintah.

“Setiap tahunnya, krisis (gas) butana ini makin buruk. Jadi kenapa pemerintah tidak bertindak dan menyediakan kebutuhan warganya?” ujar Mahmoud aJ-Askalani, juru bicara organisasi kemasyarakatan yang mengkritik tingginya biaya hidup di Mesir.

Sepanjang pekan lalu, di Bashteel, salah satu kawasan Kairo yang dihuni masyarakat miskin, ratusan perempuan dan laki-laki berduyun-duyun mendatangi pusat distribusi gas pemerintah setempat. Dengan ambooba kosong berkapasitas 12 liter di tangan, mereka mengantre hingga malam, menunggu datangnya truk tangki bahan bakar.

“Semua yang di sini sudah menunggu berjam-jam, berharap truk bermuatan butana akan datang hari ini,” ujar Um Ahmad sambil duduk di atas ambooba-nya, Sabtu (20/2). Krisis gas tersebut merupakan bagian dari masalah yang sudah acap kali dikeluhkan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintahan Presiden Mesir Hosni Mubarak yang telah berlangsung 29 tahun ini dinilai semakin jauh dari masyarakat. Adapun, Wi lebih dari total populasi Mesir yang berjumlah 80 juta jiwa hidup dengan kurang dari US$2 per hari.

Ketinggalan zaman

Di saat serupa, pemerintah Mesir dibebani sistem subsidi yang kuno ataupun pos anggaran lain yang seyogianya bertujuan memberikan barang kebutuhan pokok berharga murah bagi kaum miskin. Sayangnya, sistem itu sarat dengan kekacauan dan tidak efisien. Imbasnya, korupsi dan black market menjadi subur.

“Krisis ambooba ini menggambarkan kegagalan pemerintah membuat, kebijakan strategis untuk menyelesaikan masalah di Mesir,” kata Mohammad Shordi dalam harian al-Wafd. Dalam kajian yang dipublikasikan organisasi Askalani, permintaan butana hanya naik 8% pada musim dingin ini. Kenaikan itu dinilainya tidak cukup besar membuat kelangkaan stok hingga berminggu-minggu di permukiman masyarakat miskin Kairo.

Pengusutan yang dilakukan organisasinya juga menemukan keterlambatan pembayaran butana impor oleh pemerintah telah menyebabkan penundaan pengiriman gas tersebut ke Mesir. Padahal, pemerintah Mesir sebelumnya sempat menyalahkan faktor cuaca. Cuaca musim dingin yang buruk, diklaim mereka, telah memaksa sejumlah pelabuhan ditutup bulan ini, dan berdampak pada tertundanya gas impor masuk.

Krisis gas ini juga diperparah aksi perdagangan pasar gelap. Di pasar gelap, para pemilik pabrik yang berduit memborong gas butana yang disubsidi pemerintah guna kepentingan pribadi mereka. Adapun di pasar gelap, harga setabung ambooba mencapai kisaran US$12. Padahal di pusat distribusi pemerintah, harga resminya US$0,5.

Mesir sesungguhnya memiliki produksi gas alam sebesar hampir 48 miliar meter kubik per tahun. Namun, negeri tersebut kekurangan fasilitas kilang pengolahan gas menjadi butana. Oleh karena itu, Mesir mesti mengimpor sedikitnya 2 juta ton butana bernilai US$3 miliar dari ngga-ra-negara seperti Aljazairdan Arab Saudi. “Saat krisis roti dua tahun lalu, kami mengatasinya dengan makan nasi dan pasta. Namun, apa yang harus kami pakai sekarang untuk kelangkaan (gas) ini?” tanya Badreya Hamdy, .seorang ibu rumah tangga dari kawasan kumuh Kit Kat.

MediaIndonesia
Irana Shalindra

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.