Monday, May 29, 2017

Knowlwdge Based Harus Menjadi Paradigma Baru Pengeloalaan Industri Hulu Migas

March 31, 2010 by  
Filed under BBM

Knowledge Based harus menjadi paradigma baru sebagai acuan pengelolaan industri hulu migas di Indonesia. Demikian isu sentral dalam Diskusi Panel yang berlangsung di sela-sela kegiatan Forum Perencanaan Eksplorasi dan Produksi (Forum EP) 2010 dengan tema Sinergi dan Optimalisasi untuk Mengejar Target Produksi 2010-2015, di Nusa Dua Bali, 24/3. Diskusi Panel dipandu moderator Rieke Amru, dengan menghadirkan para panelis Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementrian ESDM, Edi Hermantoro; Senior Advisor CEO Pertamina, Achmad Luthfi; President Direktur Pertamina EP, Salis S. Aprilian; Deputi Urusan Penegakan Hukum Perdata Kementrian KLH, Yazid Nurhuda; dan Pengamat Hukum Migas, Alan Frederik.

Panelis Edi Hermantoro menyoroti pentingnya perubahan paradigma dari Resourches Based menjadi Knowledge Based dalam pengelolaan industri hulu migas. Keterbatasan sumber daya harus diikuti peningkatan pengetahuan teknologi. Jepang bisa dijadikan contoh dalam hal ini.

“Kita sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah itu dengan mengembangkan metode unconventional mulai dari CBM sampai ke sales based. Saat ini ada 60 cekungan hidrokarbon yang 22 diantaranya belum diekploitasi. Kita harus berusaha menguasai teknologi baru untuk segera menggarap 12 cekungan yang belum diekplorasi tersebut, sehingga menyisakan 10 cekungan yang digarap kemudian”, demikian penjelasan Hermantoro.

Menurut Hermantoro, pada tahun 2015 selain fokus pada upaya mempertahankan produksi di atas 1 juta barel per hari, pihaknya menargetkan 50% operator migas di Indonesia adalah perusahaan nasional, 91% TKDN dan 99% penggunann tenaga kerja nasional. Dan hal ini bisa tercapai bila penguasaan pengetahuan dan teknologi menjadi pardigma baru kita.

“Kelemahan kita selama ini tidak mampu memanfaatkan “kwoledge based” sehingga tergantung dengan teknologi dan tenaga kerja asing. Hal sulit untuk mewujudkan keinginan kita untuk turut serta menggerakkan perekonomian nasional”,  papar Hermantoro.
Sementara itu Achmad Lutfhi memaparkan, bahwa sinergi merupakan sebuah aktifitas sinkronisasi energi sumber daya manusia (SDM) atau Man Power  bukan Horse Power. Artinya, sebuah sinergi akan terjalin bila energi SDM saling mendukung satu sama lain dan berkontribusi bersama. Energi SDM itu adalah knowledge.

“kalau kita ingin mewujudkan sinergi, maka kita harus menjadi knowledge society. Sinergi merupakan persoalan budaya kerja dan budaya perusahaan. Sudah waktunya kita memasuki era baru dengan paradigma baru knowledge based society. Perusahaan harus menjadi Learning Organization”, Luthfi menjelaskan.

Sementara itu Alan Frederik lebih banyak menyoroti pihak pengambil kebijakan yang seringkali gamang dalam mengambil keputusan.
“Para pengambil kebijakan harus lebih berani dalam mengambil keputusan agar operasional tidak terhambat. Pardigm Change di level pelaksana saja tidak cukup bila tidak didukung oleh kebijakan-kebijakan yang penuh kepastian dan tidak berubah-ubah”, kata Alan.
Hasil diskusi panel yang melibatkan sekitar 300 peserta ini akan dibawa ke dalam sidang-sidang komisi sebagai masukan dan acuan pembahasan lebih mendalam.  Rapat pleno Forum akan berlangsung Jumat, 27 Maret 2010 untuk memaparkan rekomendasi final dari seluruh rangkaian Froum EP 2010.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.