Thursday, January 19, 2017

Irak Enggan Perpanjang Kontrak Perusahaan Asing

February 28, 2010 by  
Filed under BBM, Featured

BASRA – Negara-negara berkembang terus memperkuat perusahaan dalam negerinya sehingga mampu bersaing dengan korporasi global.Pemerintah Irak menegaskan tidak lagi berencana memberikan pengelolaan ladang migas untuk perusahaan asing.

Sementara pemerintah Afrika Selatan akan mengaudit semua perusahaan milik negara. Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki menegaskan negaranya tidak memiliki rencana untuk menggunakan korporasi asing untuk mengembangkan ladang migasnya setelah proses lelang terakhir pada tahun lalu.

Padahal, negara ini menjadi incaran perusahaan asing karena memiliki sepertiga cadangan migas dunia. “Saya mengatakan kepada Menteri Perminyakan selama rapat kabinet bahwa kita harus mulai berpikir mengenai pembangunan perusahaan migas sendiri. Kami tidak akan menandatangani lagi kontrak dengan perusahaan migas asing,” tegas Maliki di Basra, Sabtu lalu(20/2).

Sikap pemerintah ini bakal mengecewakan perusahaan rak sasa seperti British Petroleum Plc (BP) dan Royal Dutch Shell yang berharap menangguk keuntungan besar di negara yang hancur akibat perang itu. Apalagi, pengalaman Irak berhubungan dengan korporasi asing sangat minim.

Baghdad telah menandatangani kontrak dengan perusahaan multinasional untuk meningkatkan kapasitas produksi migasnya menjadi 12 juta barel per hari (bpd) dalam tujuh tahun mendatang. Sebagai produsen migas urutan 11 dunia, produksi minyak Irak saat ini baru 2,5 juta bpd.

Menteri Perminyakan Irak Husain al-Shahristani menegaskan bahwa tidak ada rencana pemerintah untuk menggelar lelang kontrak migas ketiga. Sebelumnya, pada Rabu (18/2), Irak bersama BP dan perusahaan energi Pemerintah Cina, CNPC, mengundang 10 perusahaan untuk mengebor 56 sumur minyak baru di daerah pertambangan minyak Rumaila.

Ke-10 perusahaan yang terpilih di antaranya Halliburton Co, Schlumberger Ltd, Baker Hughes Inc, dan Weatherford International Ltd, serta beberapa perusahaan dari China dan satu perusahaan Turki.

Para analis melihat bahwa kontrak migas yang tercapai tahun lalu akan tetap bertahan meskipun ada perubahan pemerintahan.

Investasi asing dan kemampuan perusahaan asing tampaknya menjadi faktor esensi yang dibutuhkan Irak untuk membangun kembali perekonomian dan infrastrktur yang hancur.

Audit Perusahaan Di Afrika Selatan, Presiden Jacob Zuma memerintahkan badan pemeriksa keuangan mengaudit semua perusahaan milik negara karena ditengarai banyak salah urus (mismanagement), intervensi politik, dan korupsi.

“Saya telah memerintahkan untuk diaudit sebelum pemerintah mengambil putusan akhir tentang apa yang seharusnya dilakukan dengan perusahaan tersebut,” kata Zuma, dalam wawancara dengan surat kabar Sunday Times.

Di antara perusahaan yang menjadi prioritas audit adalah South African Airways (SAA) dan perusahaan listik Eskom. Krisis kepemimpinan di Eskom terjadi setelah CEO dan dewan direksi perusahaan itu berbeda pendapat tentang cara mengelola perusahaan.

Sementara pemegang posisi kunci di SAA dan grup logistik Transnet tengah berjuang menarik investasi asing agar tidak bangkrut.

Analis menyatakan intervensi politik yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan di tubuh perusahaan milik negara memunculkan pertanyaan besar tentang kemampuan pemerintah Zuma dalam mengelola perusahaan.

Pemerintah juga diyakini kesulitan meyakinkan investor untuk menambah investasi baru dan meningkatkan kreditnya.

koran-jakarta

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.