Monday, March 27, 2017

Investasi Klaster Industri Hilir Kelapa Sawit di Riau Rp55 Triliun

October 2, 2010 by  
Filed under Alternatif

Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk pengembangan klaster industri hilir kelapa sawit di Riau sedikitnya mencapai Rp55 triliun.

Investasi itu diperlukan untuk percepatan pembangunan pembangkit listrik, infrastruktur, dan pelabuhan di Dumai dan Kuala Enok itu akan diusahakan melalui skema public private partnership (PPP) yang disertai pemberian insentif bunga oleh pemerintah. Hal itu dikemukakan Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Alexander Barus seusai pencanangan klaster industri berbasis pertanian dan oleokimia di Dumai, Riau, Sabtu (23/1/2010).

Dia mengatakan, jumlah itu terdiri dari Rp30-40 triliun untuk investasi pengembangan kawasan Kuala Enok. Untuk Dumai, diperlukan dana sebesar Rp15 triliun. Kebutuhan investasi untuk Dumai memang lebih sedikit ketimbang kebutuhan untuk klaster industri Kuala Enok. Pasalnya, klaster industri di Dumai sudah terhitung lebih siap.

Besaran investasi di Kota Dumai yang kini telah memiliki 105 perusahaan, baik melalui penanaman modal asing (PMA) maupun modal dalam negeri (PMDN), telah mencapai Rp14,6 triliun. Jumlah tenaga kerja di sana telah mencapai 14.104 tenaga kerja lokal dan 282 tenaga kerja asing.

Sementara di kawasan industri Pelintung, Dumai, kini sudah terbangun sembilan proyek industri hilir. Kawasan yang sebagian besar menjadi wilayah operasional PT Wilmar Bioenergi Indonesia itu sudah terbangun industri pengolahan minyak goreng, pupuk, dan biodiesel. Infrastruktur jalan pun sudah terbangun sebagian dari bandara hingga ke lokasi sentra kawasan industri. “Sementara Kuala Enok masih benar-benar embrio,” ujarnya.

Di luar skema PPP, untuk tahap awal, tahun ini, pemerintah akan mulai melakukan studi pengembangan industri hilir oleokimia dengan menyediakan anggaran Rp1,2 triliun. Rencana ini juga sudah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2009-2014. Saat ini, industri hilir kelapa sawit di Dumai yang antara lain dikembangkan PT Wilmar Bioenergi Indonesia dan PT Murini Sam Sam baru sebatas minyak goreng dan biodiesel.

Nantinya, melalui studi pengembangan, pemerintah akan mengkaji pengembangan CPO hingga produk turunan ketiga. Untuk produk nonpangan yang berasal dari olahan fatty alkohol dan fatty acid, keduanya produk turunan kedua, antara lain sabun, lilin, dan kosmetik. Dengan pengembangan industri hilir, nilai tambah produk tak akan hilang. Jika CPO bisa diolah menjadi biodiesel, pemasukan perusahaan dapat ditingkatkan hingga US$300 per ton. “Artinya, dengan pengembangan industri hilir, selain perusahaan bisa meningkatkan 60% pendapatannya, efek berantainya pun akan lebih luas,” ujarnya.

Sumber : MediaIndonesia.Com

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.