Saturday, July 22, 2017

Ikatan Karyawan Timah IKT tolak Mendag ubah aturan ekspor timah

October 26, 2010 by  
Filed under Tambang

JAKARTA: Ikatan Karyawan Timah (IKT) menolak rencana Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu yang akan mengubah Permendag Nomor 04 Tahun 2007 tentang ekspor timah batangan.

Pasalnya, dalam rancangan perubahan Permendag tersebut, Kementerian Perdagangan akan melegalkan ekspor tin slag dan timah paduan.

Ketua IKT Pusat PT Timah, Tbk, M. Wirtsa Firdaus menilai perubahan Permendag tersebut dapat berdampak langsung terhadap penerimaan devisa negara karena tidak lagi memperoleh manfaat optimal dari kegiatan ekspor logam timah.

Selain itu, dia menambahkan, perubahan Permendag tersebut hanya akan menguntungkan kelompok tertentu yang berkeinginan mengekspor bahan baku ke luar negeri, tanpa memikirkan nilai tambahnya bagi negara.

“Melegalkan ekspor tin slag dan timah paduan merupakan suatu kemunduran. Seharusnya, selaku Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu mendorong peningkatan nilai tambah produk pertambangan, bukan malah sebaliknya melegalkan ekspor mentah hasil tambang,” tutur dia dalam keterangan pers yang diterima Bisnis, pagi ini.

Menurut dia, bila perubahan Permendag tersebut tetap diberlakukan, tentunya dapat mengganggu kegiatan penambangan timah yang semestinya dapat dilakukan secara berkelanjutan dan aman. Melegalkan ekspor bahan baku ke luar negeri, jelas dia, akan memperkaya negara lain dan merusak harmonisasi bisnis pertimahan yang telah berjalan selama ini.

Padahal, lanjut dia, Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara mengamanatkan adanya nilai tambah produk pertambangan.

“Jika perubahan aturan tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan UU Minerba yang baru, kami ingin Menteri Perdagangan dapat memberikan syarat-syarat tertentu yang diberlakukan bagi semua pelaku ekspor timah.”

Selaku Ketua Serikat Pekerja Timah, Wirtsa berharap, sebelum memperbarui Permendag tersebut, Menteri Perdagangan seharusnya memperhatikan beberapa hal dalam kegiatan ekspor, di antaranya, timah yang dapat diekspor adalah timah yang termasuk dalam klasifikasi tarif sebagaimana di dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia Tahun 2007 dengan nomor Pos Tarif 8001 dan 8003.00.00.00.

Sementara itu, timah dengan nomor Buku Tarif Bea Masuk Indonesia Tahun 2007 nomor 8002.00.00.00 (sisa dan skrap timah) dilarang untuk diekspor.

Selain itu, bijih timah/pasir timah atau sejenisnya dilarang untuk diekspor. Timah untuk ekspor, jelas dia, harus memiliki kadar timah minimal 99,85% LME dan sesuai dengan standar ASTM (American Standar for Testing Material) B.339-95.

Selanjutnya, dia menambahkan, timah tujuan ekspor seharusnya memenuhi syarat yang telah diuji oleh surveyor yang ditunjuk oleh pemerintah, serta telah membayar lunas royalti atas timah yang diekpor dengan melampirkan copy bukti setor royalti.

Di sisi lain, papar dia, yang dapat ditetapkan untuk mendapatkan Eksport Timah (ET) adalah perusahaan/perorangan/badan usaha yang mempunyai Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi dan Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi atau izin Usaha Pertambangan Ekplorasi.

Kemudian, harus mempunyai smelter yang memenuhi standar ISO 9001, telah melakukan reklamasi serta tidak pernah menyalahgunakan L/C yang dinyatakan oleh Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

Syarat lainnya, jelas dia, eksportir tersebut harus bersedia jika sewaktu-waktu diperiksa oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri atau Dirjen Minerba (Mineral dan Batubara) Kementerian ESDM.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.