Friday, May 26, 2017

Harga CPO Naik, Pengusaha Tidak Tingkatkan Ekspor

March 21, 2010 by  
Filed under Bio Energi

Naiknya harga CPO akhir-akhir ini tidak menjadikan produsen sawit meningkatkan ekspor. Pasalnya, produksi sawit berbeda dengan produksi manufaktur yang tergantung dari hasil panen.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia Derom Bangun di Jakarta, Kamis (18/3). “Kami tidak menggenjot ekspor CPO dengan naiknya harga. Ini berbeda dengan industri tekstil. Ini kan hasil pertanian, keluar dari pohon, mesti ditungguin,” ujarnya.

Untuk merespons kenaikan harga CPO, Derom mengungkapkan strategi yang dilakukan adalah dengan menjual persediaan secara cepat. Namun, cara tersebut juga tidak selalu mutlak dilakukan karena adanya prediksi bahwa harga akan terus melambung. “Paling persediaan di jual cepat-cepat. Tapi, ada yang mikir juga jangan dulu. Minggu depan siapa tahu harganya bisa lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Menurut Derom, harga CPO yang cenderung naik tidak menutup kemungkinan akan mampu menembus harga US$1.000 per metrik ton. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan harga sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar dan harga minyak bumi. Jika permintaan dan harga minyak bumi naik, maka kecenderungan naiknya harga CPO juga terbuka lebar.

Naiknya harga CPO saat ini, lanjutnya, lebih terjadi karena tidak seimbangnya antara permintaan dengan suplai yang ada. Permintaan CPO dunia mengalami peningkatan seperti yang terjadi di India dan China, sedangkan produksi sawit cenderung stabil. “Kalau dulu tahun 2008 bisa menembus sampai US$1.300 per metrik ton, karena ada penggunaan untuk biodiesel yang luar biasa. Sekarang saya rasa tidak setinggi itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, untuk mengimbangi kenaikan permintaan CPO, setiap tahun produksi kelapa sawit ditargetkan naik sebanyak 2-2,5 juta ton. Tahun 2008, lanjutnya, produksi CPO Indonesia mencapai 19,2 juta ton sementara produksi CPO dunia sebesar 43 juta ton. Tahun 2009, produksi CPO Indonesia naik sebesar 1,6 juta ton menjadi 20,8 juta ton. Sementara, tahun ini, peningkatan produksi agak susah dilakukan dengan adanya hambatan dalam perluasan lahan.

“Kita tidak bertambah banyak, Malaysia juga tidak bertambah, paling tinggi dia 18 juta ton. Kita agak sulit karena dulu kan lahan lebih banyak. Sekarang banyak syarat yang harus diperhatikan untuk buka lahan. Itu yang menghambat perluasan,” ujarnya.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.