Sunday, July 23, 2017

Diprioritaskan untuk Chevron, Defisit Gas PLN Bertambah

March 27, 2010 by  
Filed under BBG, Featured

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengakui tidak mampu memenuhi pasokan gas sebesar 100 juta metrik standar kaki kubik per hari (million metric standar cubic feed per day/mmscfd) untuk kebutuhan bahan bakar PLTGU Muara Tawar.

Produksi gas dari lapangan Grissik di Sumatra Selatan milik ConocoPhilips lebih diprioritaskan untuk meningkatkan produksi minyak lapangan Duri, Riau, milik PT Chevron Pacific Indonesia.

“Kalau gas tidak dialokasikan untuk peningkatan produksi minyak di Chevron, produksi dan lifting minyak tahun ini tidak akan tercapai. Nilai kerugiannya akan lebih tinggi dan sangat berpengaruh untuk pemerintah karena penerimaan negara terancam turun drastis, karena produksi dan lifting minyak pasti tidak akan sesuai target,” ujar Kepala Bina Humas dan Hubungan Kelembagaan BP Migas Sulistia Hastuti Wahyu, di Jakarta, Kamis (25/3).

Prioritas gas itu, imbuh Sulis, sudah sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 3 Tahun 2010 Pasal 9 ayat 3 soal pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik.

“Karena itu, gas dari lapangan ConocoPhilips tidak bisa dialihkan untuk mengatasi kekurangan pasokan gas ke PLTGU Muara Tawar,” ujar Sulis..

Sesuai kontrak, Chevron seharusnya hanya menerima sekitar 322 MMSCFD dari ConocoPhillips. Namun karena pemerintah menaikkan target produksi minyak nasional tahun ini sebesar 965 ribu barel per hari, maka pasokan gas dari ConocoPhilips ke Chevron ditambah menjadi 402 MMSCFD

Sementara ConocoPhillips mestinya memasok 396 MMSCFD ke jaringan pipa Perusahaan Gas Negara (PGN) Sumatra Selatan-Jawa Barat (SSWJ). Namun, sejak Februari pasokan hanya 250-260 juta standar kaki kubik per hari, bahkan turun drastis menjadi 150 juta standar kaki kubik per hari.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh mengatakan, gas dari lapangan Grissik memang diprioritaskan untuk meningkatkan produksi minyak Chevron.

“Produksi minyak Chevron mencapai 40% dari produksi nasional. Jadi ini penting untuk keamanan APBN tahun ini,” ujar Darwin, pekan lalu.

Karena itu, sebelum adanya alokasi gas dari lapangan migas lain seperti Blok Cepu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ataupun Blok Kepodang di Jambi, solusi defisit gas PLN hanya satu. “Solusi untuk menutupi kekurangan gas itu baru bisa dipenuhi dari terminal terapung penerima dan regasifikasi gas alam cair (floating storage and regasification terminal/FSRT LNG). Pertamina dan PGN di Teluk Jakarta pada September 2011. FSRT itu juga rencananya dibangun di Medan, Jawa Timur dan Bali,” ujar Sulis.

Untuk jangka panjang, selain FSRT, rencana lain adalah mengalihfungsikan fasilitas kilang LNG Arun di Aceh yang sudah berkurang produksinya menjadi terminal penyimpan dan pengubah LNG.

“Hanya saja mungkin hanya untuk memenuhi kebutuhan pabrik pupuk Iskandar Muda (PIM), kebutuhan gas di Sumatera Utara dan Aceh. Karena jaringan pipa gas South Sumatera West Java (SSWJ) baru sampai di Duri, Riau,” tutur Sulis.

Menurut Sulis, BP Migas sejak awal sudah meminta PGN dan PLN untuk segera membangun FSRT LNG untuk keperluan domestik.

“Sejak 2005 kita sudah sarankan, karena sumber gas di Indonesia Bagian Barat sudah menipis sementara yang masih potensial itu seperti Tangguh dan Donggi Senoro itu adanya di Indonesia Timur. Untuk menampung dan dan mengolahnya kembali menjadi gas harus ada FSRT,” ujar Sulis.

Pihaknya juga membantah salah satu penyebab defisit ini adalah karena pengingkatan volume ekspor gas dari lapangan Grissik milik ConocoPhillips di Sumatera Selatan ke Singapura.

“Itu tidak benar, pasokan tetap sesuai kontrak,” tukas Sulis.

Dalam kontrak, pasokan gas dari ConocoPhillips ke Singapura berada di kisaran 220 MMSCFD. Namun, dengan rentang (gap) harga yang cukup jauh antara harga gas ConocoPhillips dengan PGN, yaitu sebesar US$1,8 per juta metrik british termal unit (millions metrik british thermal unit/MMBTU) dibandingkan dengan harga gas yang dipasok ConocoPhilips ke Singapura yang seharga US$12,5 per MMBTU pada harga minyak mentah US$80 per barel.

Di sisi lain, PGN sendiri mampu membeli gas dari Lapangan Singa, Blok Lematang Sumatera Selatan di kisaran US$5,7 per MMBTU.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.