Thursday, January 19, 2017

BP Migas: Ekspor Gas Rugikan Negara Rp 183 Triliun Keliru dan Menyesatkan

May 9, 2012 by  
Filed under BBG, Featured

Jakarta – Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) meradang ketika dituduh merugikan negara Rp 183 triliun per tahun akibat ekspor gas bumi, bahkan tudingan tersebut dianggap sangat keliru dan menyesatkan.
Menurut Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana, tidak benar bahwa ekspor gas bumi mengakibatkan negara mengalami kerugian Rp 183 triliun.

“Jadi hitung-hitungan yang menyebutkan bahwa ekspor gas merugikan negara hingga Rp 183 triliun/tahun jelas sangat keliru dan menyesatkan,” kata Gde kepada detikFinance, Rabu (25/4/2012).

Sebab, kata Gde hitungan tersebut mengasumsikan harga gas rata-rata sama dengan harga minyak (yaitu US$ 111 per barel oil equivalent (boe) atau setara gas rata-rata sekitar US$ 18,5 per mmbtu).

“Sebagai pembanding, harga gas ekspor melalui pipa atau LNG ke pasar Asia-Pasifik saat ini rata-rata sekitar US$ 15 per mmbtu. Itu bisa dicapai jika harga minyak mentah dunia mencapai sekitar $120/barel,” jelas Gde.

Memang diakui, harga gas memang jauh lebih murah dari harga minyak (bbm). “Contohnya harga gas ekspor kita saat ini rata-rata sebesar US$ 12 per mmbtu atau sekitar US$ 72 per boe (1 Barrel Oil Equivalent atau boe kira-kira setara dengan 6 juta British Thermal Unit atau mmbtu). Sementara harga gas kita ke pasar domestik saat ini rata-rata hanya separuhnya, atau sekitar US$ 6-7 per mmbtu atau setara US$ 36 per boe,” tukas Gde.

Sebelumnya, Anggota Komiter Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), Qoyum Tjandranegara, mengatakan selama ini banyak pihak mempermasalakan produksi minyak mentah Indonesia turun 20-30 ribu barel per hari.

“Tapi hampir tidak ada orang mempermasalahkan gas bumi yang diekspor hampir mencapai 800.000 berel oil equivalen (boe) per hari dengan harga hanya 55% dari hari Bahan Bakar Minyak (BBM),” ungkap Qoyum, di Jakarta, Senin (23/4/2012).

Diungkapkan Qoyum, ekspor gas bumi mencapai 800.000 boe/hari tersebut dalam setahun negara merugi sekitar Rp 183 triliun. Sedikit? Tentu tidak.

“Tapi buktinya tidak ada yang menggugat kondisi tersebut. kenapa bisa Rp 183 triliun? Dari mana angka itu? Saya tidak asal ngomong,” tegas Qoyum.

Dijelaskannya, contoh nyata produksi gas bumi pada 2011 adalah 8.430 mmscfd (million standard cubic feet per day) setara dengan BBM 1,5 juta boe/hari. Sebanyak 53% diekspor atau setara dengan BBM 795.000 boe/hari.

“Dengan demikian dalam 1 tahun Negara kehilangan devisa sebesar 795.000 boe x 365 hari x 45% (harga 1 liter BBM) x 1,4 x US$ 111/boe x Rp 9.000/US$ = Rp 183 triliun,” ungkap Qoyum.

Qoyum bilang setiap 1 liter setera BBM Gas Bumi diekspor sebagai gantinya dibutuhkan 1 liter BBM impor.

“Jadi harga gas bumi 55% harga 1 liter BBM sehingga untuk membeli 1 liter BBM, Negara ini kehilangan devisa sebesar 45% harga 1 liter BBM. Di samping gas bumi lebih murah, juga lebih bersih lingkungan dan lebih efesien 10-30%,” jelasnya.

“Toh melihat keadaan seperti itu di depan mata,tidak ada yang mempermasalahkannya sama sekali, ekspor gas bumi terus terjadi,” tandasnya.

(rrd/ang) Rista Rama DhanydetikFinance

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.