Friday, July 28, 2017

Bakrie Power ambil alih pembangunan PLTU Tanjung Jati A

November 3, 2010 by  
Filed under Alternatif

JAKARTA: PT Bakrie Power mengambil-alih pelaksanaan pembangunan proyek PLTU Tanjung Jati A, Cirebon, berkapasitas 2×600 MW setelah mundurnya Tomen Power Corporation, perusahaan asal Jepang dan International Power Plc, perusahaan asal Inggris dari proyek tersebut.

Presdir PT Bakrie Power Ali Herman Ibrahim mengungkapkan semula Tomen Power Corporation dan International Power Plc bersama PT Bakrie Power dan PT Maharani Paramitra sudah membentuk konsorsium bernama PT Tanjung Jati Power Company.

Hanya saja, jelas dia, dalam perjalanannya kedua mitra asing tersebut menyatakan mundur dari proyek pembangkit swasta (independent power producer/IPP) tersebut. Alasannya, tidak adanya kepastian soal harga jual listrik (power purchase agreement/PPA) pembangkit tersebut dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

“Dengan kondisi regulasi kita saat ini, tidak ada kepastian harga, mereka [Tomen Power dan International Power] mau diam saja. Mereka mundur dan kita ambil-alih semuanya, supaya proyek tetap jalan,” tutur dia, hari ini.

Ali mengakui Bakrie Power selaku pengembang memang menunggu kepastian harga listrik dari perusahaan listrik pelat merah itu. Akan tetapi, PLN tentunya tidak serta merta merevisi harga listrik yang semula US$0,045 per kWh itu dengan asumsi harga batu bara US$30 per metrik ton, menjadi paling tidak US$0,068 per kWh.

Dalam proyek pembangkit IPP tersebut, kata dia, PT Maharani Paramitra yang dimiliki oleh Siti Hediati, putri mantan presiden Soeharto dan Bakrie Power masing-masing memiliki saham sebesar 20%.

Sementara itu, Tomen dan International masing-masing menguasai 30% saham. “Semakin tidak jelas dan berlarutnya kelanjutan proyek Tanjung Jati A ini membuat kedua mitra kita itu mundur. Sementara ini, biar Bakrie saja. Tetapi kita juga terbuka dengan partner baru.”

Menurut Ali, proyek pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara tersebut memang sempat tertunda sejak beberapa tahun lalu. Dia menerangkan tertundanya pembangunan pembangkit tersebut bermula dari adanya hambatan soal pembebasan lahan.

Semula, kata dia, proyek Tanjung Jati A semula akan dibangun di Jepara, Jawa Tengah, tetapi akhirnya dipindahkan ke Cirebon, Jawa Barat karena lahannya sudah tersedia.

Selama pembangunan proyek ini, lanjut Ali, harga listrik juga sudah beberapa kali berubah. Apalagi dengan kondisi saat ini, perlu penyesuaian kembali proyek tersebut karena harga harga bahan baku pembangkit juga mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Di sisi lain, dia menambahkan PPA PLTU Tanjung Jati terpaksa diamendemenkan karena kesepakatan harga sesuai PPA yang lama dinilai terlalu tinggi. Hingga kini, perusahaannya masih menunggu persetujuan PLN atas PPA yang baru.

Namun demikian, Ali meyakini proyek PLTU Tanjung Jati A bisa beroperasi sesuai rencana yakni sekitar 2015-2016, meskipun masih belum ada kejelasan soal PPA dan harus membangun sendiri setelah ditinggal dua perusahaan mitranya.

“Sebenarnya tidak ada masalah lain, kecuali soal harga dengan PLN. Karena itu kami tetap lanjutkan proyeknya.”

Saat ini, ujar Ali, sudah ada bank dari Korea Selatan] yang berminat untuk mendanai proyek ini. Akan tetapi, Letter of Intent baru bisa dibuat jika PPA sudah selesai. “Kami membutuhkan dana lebih dari US$2 miliar untuk proyek tersebut,” jelas Ali.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.