Tuesday, March 28, 2017

Alihkan Subsidi BBM untuk Realisasikan Transportasi Massal Modern

February 19, 2010 by  
Filed under BBM, Featured

Perlu persiapan untuk menyediakan sarana transportasi massal sejalan dengan rencana merevisi aturan soal pengguna subsidi BBM bersubsidi.

PEMERINTAH akan merevisi aturan yang menetapkan peng-guna bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Melalui revisi itu, penggunaan BBM bersubsidi diharapkan dapat ditekan. Pasalnya, besaran subsidi untuk energi, khususnya BBM, bukan hanya berbanding lurus dengan harga minyak dunia, melainkan juga dengan pola konsumsi energi masyarakat Indonesia yang terkenal boros.

Pos subsidi untuk energi mengambil porsi cukup besar dalam anggaran negara. Misalnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010, dari total belanja Rpl .047,7 triliun, subsidi mengambil porsi lebih dari 14% atau Rpl50 triliun.

Sangat disayangkan apabila pemanfaatan dana sebesar itu salah. Apalagi jika sampai terbuang sia-sia, tanpa memberi kontribusi apa pun bagi bangsa, kecuali polusi. Oleh karena itu, kemudian muncul pemikiran untuk mengatur kembali siapa-siapa yang berhak menerima BBM bersubsidi. Seperti diungkapkan Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Legowo, pertengahan Februari lalu di Jakarta, pemerintah akan merevisi aturan yang menetapkan pengguna bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Revisi akan berupa peraturan presiden (perpres), yang menggantikan Per-pres No 9/2006, yang juga merupakan perubahan Perpres No 55/2005. Evita tidak menyebut isi revisi yang dibicarakan. Dia hanya menegaskan, melalui revisi, penggunaan BBM bersubsidi diharapkan dapat ditekan.

Kompensasi

Namun, pengurangan subsidi sepantasnya juga memberikan kompensasi atau manfaat lain pada masyarakat. Misalnya soal pilihan pada moda transportasi massal. Seperti diungkap Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatno kepada Media Indone-fin, pemerintah seharusnya segera menyiapkan strategi sarana transportasi massal, sejalan dengan pengurangan subsidi BBM secara bertahap.

“Pemerintah cabut subsidi BBM itu secara bertahap, dan di saat yang sama sediakan transportasi publik untuk masyarakat,” ujarnya. Sudaryatno kemudian memaparkan, selama ini masyarakat menghabiskan sekitar 15%-20% penghasilannya untuk belanja transportasi. Lantaran tidak adanya jaminan transportasi massal yang layak, mereka kemudian memilih akses transportasi pribadi seperti sepeda motor yang sangat bergantung pada pasokan BBM bersubsidi.

Hal-hal itulah yang menyebabkan konsumsi BBM bersubsidi melonjak. Belum lagi peningkatan jumlah angkutan pribadi yang tidak diiringi peningkatan jumlah ruas jalan menjadi penyebab utama kemacetan. Oleh karena itu, dalam pemikiran Sudaryatno, menyubsidi BBM untuk masyarakat menjadi hal yang tidak populer lagi. Terutama bagi negara pengimpor minyak. Sebab dengan subsidi, sesungguhnya pemerintah justru mendongkrak konsumsi BBM.

Tranportasi Masal Jepang

MediaIndonesia / Dani Prasetya

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.