Sunday, March 26, 2017

ACFTA DATANG, GAS SERET, TDL NAIK

March 14, 2010 by  
Filed under BBG

Memang cukup membingungkan kebijakan strategis Pemerintah dalam mengantisipasi dampak perdagangan bebas dengan negara-negara Asean dan China. Alih-alih memperkuat daya saing, pemerintah malah ingin merontokan daya saing para pengusaha nasional. Caranya, dengan menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sekitar 15% mulai April mendatang dan mengizinkan gas produk lokal diekspor ke luar negeri.

Padahal, tarif listrik dan harga gas merupakan salah satu komponen yang cukup vital dari keseluruhan komponen biaya produksi. Terutama, bagi kalangan pelaku usaha kecil dan menengah.

Tak pelak, permasalahan pasokan gas dan kenaikan tarif dasar listrik kini  menghantui industri.

Untungnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat berani pasang badan untuk melindungi sektor industri, terutama kalangan UKM. Menurutnya, rencana kenaikan listrik 15% pada bulan Juli akan membunuh industri dalam negeri khususnya industri UMKM. Selaku Menteri Perindustrian, Hidayat mengaku menolak, kenaikan TDL.

Penolakan lebih keras datang dari Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno. Pengusaha kawakan ini menegaskan kalangan dunia usaha menolak kenaikan TDL yang rencananya akan diterapkan pada Juli mendatang.

Bagi Benny, kenaikan TDL ini akan langsung menurunkan daya saing industri. Alasannya, TDL dalam industri itu ibarat bumi dengan langit terkait isu free trade atau perdagangan bebas. Seharusnya pemerintah mendorong daya saing industri dalam negeri bukan sebaliknya dengan kenaikan TDL, mengingat biaya listrik menjadi salah satu komponen daya saing. Des, kalau TDL dinaikan maka upaya menaikan daya saing akan terhambat.

Selama ini, listrik dalam komponen biaya industri, terutama tekstil merupakan komponen yang cukup besar. Misalnya untuk sektor garmen atau pakaian jadi menelan biaya hingga 20%, sedangkan sektor hulunya hingga 50%.

Kenaikan TDL memang agak membingungkan lantaran mulai tahun ini, Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik akan mengalirkan pasokan listrik dari beberapa pembangkit yang telah siap beroperasi. Des, masalah ketersediaan pasokan listrik sebenarnya mulai teratasi.

Ketidakjelasan sikap pemerintah dalam mendongkrak daya saing industri guna menghadapi ACFTA juga terlihat dalam masalah gas. Alih-alih menyediakan pasokan gas agar industri bisa mendapat sumber energi murah, pemerintah malah mengijinkan gas produksi lokal diekspor keluar negeri. Ironisnya, Indonesia malah ingin melakukan impor gas. Aneh memang. Punya sendiri diekspor, setelah di pasar internasional, malah ingin diimpor. Ini ada apa sebenarnya.

Dalam masalah gas, pemerintah harus mulai berani mengambil sikap tegas. Kalau memang industri dalam negeri membutuhkan gas dalam jumlah besar, maka kontrak jual beli gas dengan negera asing harus diamandemen. Masa UUD 1945 saja bisa diamandemen, kontrak jual beli tidak bisa.

Nah, dengan ketersediaan gas dan listrik yang cukup dan berharga murah, maka industri dalam negeri akan makin siap bersaing dengan industri China. Jadi, kalau China mengirim produknya ke Indonesia, produk lokal bisa menyainginya, terutama dalam soal harga.

– Kamsari –
Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.