Saturday, August 30, 2014

4 Kontraktor raih perpanjangan kontrak (KKKS) 20 tahun

October 29, 2010 by  
Filed under BBM

Empat kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mendapatkan perpanjangan kontrak selama 20 tahun dari pemerintah dengan komitmen investasi senilai US$4,58 miliar.

Keempat KKKS tersebut terdiri dari PT Medco E&P Indonesia sebagai operator Blok South and Central Sumatera, PT Medco E&P Malaka selaku operator Blok A. Selain itu, Camar Resources Canada Inc sebagai operator Blok Bawean dan operator Blok Madura Strait Husky Oil Madura Ltd.

Sesuai dengan kontrak yang ada, Blok South and Centra Sumatera akan berakhir pada 27 November 2013, Blok A berakhir pada 31 Agustus 2011. Adapun, Blok Bawean akan berakhir pada 6 Februari 2011, sedangkan Blok Madura Strait berakhir pada Oktober 2012.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita Herawati Legowo mengatakan berdasarkan PP No.35/2004 disebutkan perpanjangan kontrak tersebut telah dievaluasi bersama antara pemerintah yang terdiri dari Biro Hukum dan Humas Kementerian ESDM, Ditjen Migas, BP Migas dan KKKS terkait.

Berdasarkan regulasi yang ada, tuturnya, masa perpanjangan kontrak akan diberikan selama 20 tahun.

Evita mengatakan total investasi yang akan ditanamkan oleh keempat KKKS mencapai US$4,58 miliar. Dengan investasi tersebut, tuturnya, diharapkan Indonesia akan mendapatkan tambahan cadangan baru sebanyak 321 juta barel dan 2,4 triliun kaki kubik.

“Investasi itu akan digelontorkan selama 20 tahun masa kontrak perpanjangan. Selain penambahan cadangan baru, pemerintah juga mengharapkan keempatnya bisa memproduksi sebanyak 174 juta barel dan 1,78 triliun kaki kubik selama 20 tahun,” tuturnya hari ini.

Selama 3 tahun pertama, katanya, empat KKKS juga akan menginvestasikan senilai US$155 juta. Investasi itu, tuturnya, akan digunakan untuk kegiatan eksplorasi, beruka kegiatan seismic dan pengeboran.

“Eksplorasi itu dimaksudkan untuk mempertahankan produksi dan meningkatkan cadangan migas,” katanya.

Berdasarkan data pemerintah per 1 Januari 2009, total cadangan dan sumber daya minyak kini mencapai 7,8 miliar barel, masing-masing 4,2 miliar barel cadangan P1 dan 3,6 miliar cadangan P2 dan P3.

Adapun, cadangan gas bumi pada periode yang sama mencapai 154,76 tcf, masing-masing 105,46 tcf cadangan P1 dan sisanya merupakan P2 dan P3.

Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan dari keempat wilayah kerja yang diperpanjang tersebut, Blok South and Central Sumatera dan Blok Bawean telah menghasilkan produksi minyak dan gas bumi, sedangkan dua wilayah kerja lainnya, yaitu Blok Blok A Aceh dan Blok Madura Strait sedang dalam tahap pengembangan lapangan gas bumi.

“Untuk blok yang menghasilkan produksi gas bumi,  dengan diperpanjangannya masa kontrak kerjasama tersebut diharapkan dapat terus mendukung kelangsungan pasokan gas bumi bagi konsumen gas bumi dalam negeri,” katanya.

Dia menjelaskan gas bumi yang diproduksikan dari Blok South and Central Sumatera telah telah memasok gas bumi untuk pabrik PT Pupuk Sriwijaya dan pembangkit listrik di Sumatra Selatan. Adapun, gas bumi dari Madura Strait dipasok untuk kebutuhan PLN dan industri di Jawa Timur.

“Untuk yang diproduksi dari Blok A sebanyak 110 MMscfd akan dipasok untuk PT Pupuk Iskandar Muda dan PLN Aceh Timur,” ungkapnya.

Presiden Direktur Medco E&P Indonesia Budi Basuki mengatakan perusahaan akan menginvestasikan US$2,7 miliar untuk Blok A dan Blok South and Central Sumatera. Bahkan, tuturnya, apabila dihitung sejak 2010, investasi di Blok South and Central Sumatera sebenarnya bisa mencapai sekitar US$1,76 miliar.

“Untuk Blok A kami akan segera mengembangkan dua lapangan, yaitu Alur Siwah dan Alur Rambong. Produksinya diproyeksikan 110 MMscfd. Adapun untuk South and Central Sumatera produksi gasnya kini sudah 134 MMscfd, akhir tahun bisa 150 MMScfd. Tahun depan kami targetkan mencapai 170 MMscfd,” urainya.

Blok A merupakan kontrak yang istimewa karena mengacu pada dua UU, yaitu UU No.22/2001 tentang Migas dan UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Implementasi UU tersebut mengharuskan perpanjangan kontrak dilakukan setelah ada kesepakatan antara pemerintah pusat dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Keistimewaan lainnya adalah penerapan UU No.24/2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan dalam kontrak perpanjangan tersebut. Kontrak perpanjangan keempat blok tersebut menjadi yang pertama kalinya menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi R. Priyono mengungkapkan berdasarkan perkembangan terakhir, target produksi dan lifting minyak yang dianggarkan pemerintah dan DPR tahun ini sebesar 965.000 bph sulit dicapai.

Bahkan, tuturnya, untuk bisa mencapai tingkat lifting 960.000 bph, masih terlalu berat menyusul belum pulihnya produksi dari Chevron Pacific Indonesia pascabocornya pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia akhir bulan lalu.

“Target 965.000 bph kayaknya susah ya…. 960.000 bph saja sudah berat. Sepertinya akan di bawah 960.000 bph. Produksi mungkin sekitar 950.000, tetapi lifting masih bisa digenjot dengan melepas stok. Tetapi itu pun sepertinya masih sulit capai target,” tuturnya.

Priyono menjelaskan sejak bocornya pipa Transgasindo yang sempat menyebabkan penutupan sumur-sumur produksi CPI di Lapangan Duri, produksi minyak nasional berkurang signifikan. Produksi CPI, katanya, sempat anjlok hingga 150.000 bph selama sekitar sepekan.

“Dari produksi sekitar 200.000 bph hingga kini masih sekitar 190.000 bph,” katanya.

Berdasarkan catatan BP Migas, rata-rata produksi minyak nasional hingga 26 Oktober 2010 mencapai 950.705 bph. Adapun, produksi rata-rata sepanjang Oktober sebesar 889.949 bph (lihat grafis). “Kalau rata-rata sepanjang tahun mencapai 950.705 bph,” terangnya.

Priyono mengatakan tidak tercapainya produksi, serta penguatan nilai rupiah terhadap dolar, mengakibatkan pemerintah harus bergantung pada harga minyak mentah untuk bisa mengatrol penerimaan negara. Menurut dia, dengan kondisi saat ini perlu kenaikan harga sekitar US$10 per barel untuk mencapai target penerimaan.

“Untuk bisa mencapai target penerimaan perlu level harga sekitar US$85—US$90 per barel dalam 2 bulan terakhir. Jadi, kalau harga minyak mentah naik US$10 per barel bisa masuk,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, harga minyak mentah dunia berada di level sekitar US$82 per barel. Namun, Priyono mengatakan kemungkinan kenaikan harga minyak mentah tersebut bisa terjadi. “Karena ada analis yang malah memperkirakan harga minyak bisa menyentuh level US$100 per barel pada akhir tahun.”

Ketika dimintai tanggapannya, Evita Herawati Legowo mengakui lifting kemungkinan hanya bisa dicapai maksimal 955.000 bph. Adapun, terkait dengan pencapaian penerimaan, dia menolak memberikan tanggapan.(yn)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.