Thursday, July 27, 2017

35 Blok migas ditawarkan tahun ini

April 6, 2010 by  
Filed under BBG, Featured

Pemerintah berencana menawarkan sekitar 35 wilayah kerja (WK/blok) migas pada tahun ini, yang akan terdiri dari 19 blok melalui tender regular dan 16 blok ditawarkan melalui penawaran langsung (studi bersama).

Blok yang ditawarkan melalui tender reguler adalah East Natuna, SE Baronang, Nias I, Nias II, Tanjung Jabung, Sunda Strait I, Sunda Strait II, Sunda Strait III, West Kangean I, West Kangean II, South Kangean I, South Kangean II, SE Mandar, SW Makassar, West Sebuku, Saliki, East Tarakan, SW Bird Head dan Wokam.

Adapun, blok yang ditawarkan melalui penawaran langsung adalah North Sokang, NW Natuna, Gurita, Sumbagsel, Titan, Kuala Pembuang Sampit, Damar, Belayan, Bone Bay, Babar, Selaru, Yamdena, Arafura Sea II, North Arafura, Onin dan North Semai.

“WK yang ditawarkan ini terutama berlokasi di bagian Timur Indonesia. Waktu pengumuman penawaran akan dilakukan sesuai dengan momentum yang tepat,” kata  Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Ditjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro seperti dikutip dalam situs resmi Ditjen Migas hari ini.

Pemerintah, tuturnya, akan mengevaluasi dan mengumpulkan respons dari calon investor terhadap 35 blok tersebut sebelum penawaran diumumkan secara resmi.

“Nanti kita evaluasi bersama, sambil mengumpulkan respon dari calon investor serta melakukan pengecekan ketersediaan data, model atau konsep eksplorasi yang sedang menjadi perbincangan kontraktor serta situasi di negara-negara lainnya. Setelah itu baru kita pilih dan umumkan.”

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi R. Priyono mengatakan hingga akhir 2009, terdapat 232 wilayah kerja produksi dan eksplorasi yang berada dalam kendali pengawasan badan pelaksana. Jumlah itu, tuturnya, meningkat 14% jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya sebanyak 203 blok.

Hanya saja, berdasarkan evaluasi BP Migas, sektor hulu migas kini menghadapi beberapa kendala yang harus dicarikan solusi yang tepat, cepat, dan komprehensif agar tidak berdampak negatif pada upaya pencapaian target-target produksi di masa mendatang.

Pertama, tuturnya, persepsi investor yang masih memandang kondisi investasi di sektor hulu migas kurang kondusif akibat tidakpastinya penghargaan terhadap kontrak yang sedang berlaku, seperti pembatasan cost recovery.

Kedua, tuturnya, penurunan produksi alamiah yang hingga kini mencapai 7%–12% per tahun karena sebagian besar lapangan produksi migas sudah berada dalam tahapan mature dengan fasilitas produksi yang sudah tua. Ketiga, anggaran biaya eksplorasi yang sangat terbatas.

“Jika dalam kurun waktu 1995—1999 pengeluaran untuk eksplorasi rata-rata 10% dari total biaya, dalam kurun 2000—2008 turun signifikan menjadi rata-rata 5%. 2009, investasi eksplorasi juga masih rendah, beruntung realiasi pengeboran eksplorasi di tahun itu naik 7,1% dengan tingkat keberhasilan 46%,” jelasnya.

Selain ketiga kendala tersebut, kata Priyono, hulu migas juga terkendala oleh berbagai aturan yang justru dikeluarkan pemerintah, seperti UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Penataan Ruang, UU Pelayaran, dan juga peraturan daerah pascaotonomi daerah. “Bisa dikatakan kendala terbesar untuk produksi migas saat ini bukan masalah teknikal, tetapi non teknikal, terutama terkait dengan otonomi daerah.”

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.