Monday, July 24, 2017

21 Sumur migas terkendala perizinan

December 1, 2010 by  
Filed under BBM, Featured

Energi ;  PT Pertamina EP terpaksa menunda pengembangan 21 sumur yang dijadwalkan tahun ini lantaran terkendala masalah perijinan.

Manajer Humas Pertamina EP Agus Amperianto menjelaskan rencana pengerjaan 21 sumur yang tertunda ke 2011 terdiri atas 18 sumur eksploitasi dan 3 sumur eksplorasi. Tahun ini, Pertamina EP  merencanakan pemboran 29 sumur eskplorasi. Dari angka tersebut yang sudah terealisasi sebanyak 20 sumur, on going 6 sumur, sisanya tertunda tahun depan.

“Tiga sumur eksplorasi yang tertunda di TBR-B di Bojonegoro karena kendala perijinan kehutanan, TSM-4X di Pagar Dewa Sumatera Selatan karena perijinan perkebunan, dan BBA-A di Jambi karena perijinan lokasi,” ujar Agus kepada Bisnis, hari ini.

Adapun untuk sumur eksploitasi, kata Agus, prognosa hingga akhir 2010 terealisasi 93 sumur dan yang tertunda ke 2011 sebanyak 18 sumur yang ada di wilayah Sumatera dan Jawa. “Kendala sumur eksploitasi salah satunya karena masalah ijin Perhutani,” kata Agus.

Terkait produksinya, hingga pertengahan November 2010 Pertamina EP sudah membukukan volume produksi minyak sebanyak 130.330 barel per hari (bph) atau 99,5% dari target tahun ini yang sebesar 131.202 bph.

Sedangkan untuk produksi gas sudah mencapai 1.051,59 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Day). Angka tersebut hampir menembus 96,3% dari target produksi gas yang dibidik Pertamina EP di 2010.

Tahun depan anak usaha PT Pertamina (Persero) ini membidik produksi minyak sebesar 132 Mbopd, sementara produksi gasnya hanya mencapai 946 MMSCFD. Padahal tahun ini, perseroan berani mematok produksi gas hingga sebesar 1.096 MMSCFD.

Jumat kemarin (26 November 2010), Pertamina EP menandatangani kesepakatan terkait jual beli gas dengan PT Pertamina Gas  (Pertagas) dan PT Bumi Wiralodra Indramayu (BWI).

Agus menjelaskan PJBG Flare Gas dengan BUMD BWI merupakan optimalisasi sumber gas dari flare gas lapangan Sindang, Indramayu, Jawa Barat dengan jumlah penyerahan harian (JPH) sebesar 0,5 MMSCFD dari jumlah kontrak keseluruhan 547,5 MMSCF.

“PJBG ditandatangani dengan jangka waktu kontrak 3 tahun dengan nilai perjanjian US$2.257.357,” ujar Agus.

Adapun jual beli gas dengan Pertagas untuk gas terproses dari lapangan Pondok Tengah, Pondok Makmur, dan Tambun, dengan prinsip penyaluran dan spesifikasi gas ‘As Is’ memiliki jangka waktu perjanjian tersebut adalah 4 tahun dengan pelaksanaan paling lambat Juni 2011.

Agus mengatakan perkiraan jumlah gas terproses secara keseluruhan 7.365.370,32 MMBTU. Harga gas yang disepakati bersama BP Migas mengikuti jumlah formula yang telah ditetapkan dan minimum US$3,50 per MMBTU. “Perjanjian ini memiliki nilai kontrak selama 4 tahun dengan nilai US$25,77 juta.”

Produksi gas Pertamina EP merupakan penopang terbesar dari total produksi gas Pertamina secara keseluruhan. Sedangkan saat ini Pertamina adalah produsen gas terbesar untuk kebutuhan domestic.

Menurut Agus, pasokan gas Pertamina untuk konsumen terdiri dari 34% dipasok kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk, 20% untuk memenuhi kebutuhan industri, 18% untuk industri pupuk, 25% untuk pembangkit listrik, dan 3% lainnya untuk kebutuhan kilang Pertamina.

Produksi gas Pertamina EP juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2006 sebesar 955 MMSCFD meningkat menjadi 980 MMSCFD pada 2007. Pada 2008, Pertamina EP membukukan produksi gas sebesar 1.003 MMSCFD dan naik menjadi 1.043 MMSCFD pada 2009.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.